Kamis, 17 September 2015

BAB I
PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang
Puskesmas merupakan unit organisasi kesehatan terdepan yang mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara komprehensip dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal disuatu wilayah kerja tertentu.
Berdasarkan misi tersebut, Puskesmas Cibitung mempunyai kewenangan dan tanggungjawab dalam memberikan pelayanan kepada seluruh lapisan masyarakat yang secara administratif berdomisili di wilayah kerja Puskesmas. Bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan Puskesmas Cibitung bersifat pelayanan   komprehensip ( Coprehensive Health Care Service ) yang meliputi aspek Promotif,  Preventif, Kuratif, dan Rehabilitatif. Prioritas pelayanan yang diselenggarakan yaitu diarahkan ke bentuk pelayanan  kesehatan dasar ( Basic  Health Care Service ).
Untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut diperlukan suatu indikator Indonesia sehat dan indikator kinerja standar pelayanan minimal (SPM) bidang kesehatan. Indikator tersebut dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu (1) indikator derajat kesehatan sebagai hasil akhir (Impact), seperti mortalitas, morbiditas, AKI, AKB, dan status gizi, (2) indikator hasil antara, seperti keadaan lingkungan, perilaku hidup sehat, akses pelayanan, dan mutu pelayanan kesehatan, dan (3) Indikator proses masukan (Input) dan proses (Proccess), seperti pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan, dan kontribusi sektor terkait.
Berkaitan dengan pembangunan kesehatan di Kecamatan Cibitung, Puskesmas Cibitung sejak beroperasi tanggal 17 April 2006 telah menyusun sebuah Visi, Misi, Strategi bersama guna mendukung Kabupaten Pandeglang sehat, serta berkomitmen untuk  melaksanakan berbagai upaya-upaya Pokok Puskesmas yang terbagi dalam program wajib dan program pengembangan. Akan tetapi, Puskesmas sebagai salah satu pusat pelayanan kesehatan masyarakat secara umum, saat ini tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai sarana untuk mengumpulkan informasi-informasi kesehatan masyarakat.Sebagai sarana penampung informasi kesehatan, Puskesmas memerlukan manajemen informasi, sehingga informasi-informasi yang sudah ditampung dapat diolah dengan cepat dan akurat yang nantinya dapat digunakan sewaktu-waktu untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakan dengan lebih efektif dan efisien.
Salah satu manajemen informasi kesehatan yang dapat digunakan untuk melaporkan hasil pencapaian dan hasil kinerja dari penyelenggaraan pelayanan minimal bidang kesehatan adalah profil kesehatan Puskesmas Kecamatan Cibitung.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa profil kesehatan Kecamatan Cibitung pada intinya berisi berbagai data dan informasi yang menggambarkan tingkat pencapaian Kecamatan sehat dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) bidang kesehatan. Meskipun data yang diolah, dianalisis, dan disajikan belum seluruhnya dapat dimanfaatkan secara tepat guna, maka perlu penyesuaian dan penyempurnaan dari waktu ke waktu oleh Puskesmas Cibitung, tetapi tetap merupakan salah satu sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk saat ini dan diwaktu mendatang.
1.2. Tujuan
Tujuan disusunnya Profil kesehatan Kecamatan Cibitung tahun 2014 antara lain adalah :
a.Sebagai sarana untuk memantau dan mengevaluasi pencapaian program Puskesmas Cibitung;
b..Sebagai masukan bagi kepala wilayah kecamatan dan Dinas kesehatan Kabupaten tentang upaya-upaya Puskesmas Cibitung dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Cibitung;
c.Sebagai data dan informasi yang mendeskripsikan tingkat pencapaian derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Cibitung;
d.Sebagai pendeskripsian dari kinerja standar pelayanan minimal bidang kesehatan di Kecamatan Cibitung.

1.3.        Sistematika Penyusunan
Untuk mendukung penyajian informasi kesehatan yang akurat sehingga dalam profil ini dapat memberi gambaran terhadap upaya kesehatan yang telah dilaksanakan di Kecamatan Cibitung selama tahun 2014, maka sistematika penyusunan buku profil kesehatan di Kecamatan Cibitung Kabupaten Pandeglang adalah sebagai berikut :

Bab I   : Pendahuluan
Bab ini berisi penjelasan tentang latar belakang dan tujuan dibuatnya profil kesehatan di kecamatan Cibitung, serta sistematika penyajiannya.

Bab II  : Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kecamatan Cibitung, letak geografis, administrasi, dan informasi umum lainnya, serta mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lainnya seperti kependudukan, ekonomi, dan pendidikan.

Bab III : Program Kesehatan Puskesmas Cibitung
Bab ini berisi uraian tentang program pokok dan program pengembangan yang dilaksanakan di Kecamatan Cibitung untuk menuju Kecamatan sehat, serta dijelaskan tujuan, sasaran, dan target yang hendak dicapai.

Bab IV  : Pencapaian program Puskesmas
Bab ini menguraikan tentang apa saja yang telah dicapai selama kurun satu tahun, kemudian dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan baik indikator Kecamatan sehat,  indikator kinerja standar pelayanan minimal, maupun indikator input dan proses.

Bab V : Penutup
Bab ini diisi dengan ulasan tentang hal-hal penting yang perlu dianalisis dan ditindak lanjuti lebih lanjut dari profil kesehatan Kecamatan Cibitung.

Lampiran-lampiran
Lampiran ini berisi tabel Matrik Program Tahun 2014


BAB II
ANALISA  SITUASI


2.1.  GAMBARAN UMUM
2.1.1.   GEOGRAFIS
Secara geografis luas wilayah kerja Puskesmas Cibitung adalah  180,72  KM2, ketinggian 0 – 210 m dpl. Sebagian besar pemanfaatan lahan adalah lahan kering pertanian dan perkebunan dan sebagian kecil adalah persawahan. Jarak ke Ibu Kota kabupaten 91 KM dan ke RSUD 84 KM , jarak tempuh dengan kendaraan roda empat antara 2,5 – 3 jam. Jangkauan pelayanan Puskesmas ke Desa terjauh dengan waktu tempuh jalan kaki 2,30 jam, sepeda motor 1,5 jam dengan biaya Rp 60.000;, sedangkan jangkauan ke fasilitas rujukan terdekat dengan waktu tempuh30 menit dengan sepeda motor dengan biaya Rp. 20.000. Letak strategis Puskesmas berada di Ibu Kota Kecamatan status terpencil dan tertinggal dengan status kepemilikan tanah milik PEMKAB Pandeglang tanpa sertifikat. Luas tanah 2.365 M2, luas bangunan Puskesmas 240 M2, tahun pembangunan 2006, tahun operasional 17 April 2006, tahun peresmian 1 April 2007 . Adapun batas-batas wilayah pemerintahan kecamatan Cibitung adalah :
- Utara                                                : Kecamatan Cibaliung
- Selatan                                           : Samudera Indonesia/Pantai Selatan
- Timur                                                : Kecamatan Cikeusik
- Barat                                                : Kecamatan Cimanggu

2.1.2.   GEOLOGI, TOPOGRAFI, DAN IKLIM
Secara geologi wilayah kerja Puskesmas Cibitung berada dalam jalur ujung kulon dan  lebak selatan, yang berdasarkan  topografi secara umum terdiri dari perbukitan dan dataran rendah yang terdapat di wilayah pantai selatan samudera Indonesia, dimana daerah paling rendah jalur pantai Kutakarang, Sindangkerta,dan Citeluk. Sedangkan daerah tertinggi adalah arah Kiarapayung, Manglid, Cikalong dan Cikadu. Terdapat lima sungai besar yang mengalir di wilayah Kecamatan Cibitung sebagai cadangan ketersediaan air yaitu sungai Cikalong, Citeluk dan sungai Cikasap, Cikiruh, dan sungai Ciherang.
Iklim wilayah Kecamatan Cibitung adalah iklim tropis dengan curah hujan sekitar 2.000-4.000 mm per tahunnya. Sedangkan suhu minimum  sekitar 23 0C dan suhu maksimum 28 0C.

2.1.3.   WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN
Sejak terbentuknya Kecamatan Cibitung pada tahun 2004, wilayah administrasi Pemerintahan Kecamatan Cibitung  terdiri dari wilayah Desa : 10 Desa, 42 dusun, 45 RW, 121 RT.

2.2.  GAMBARAN KHUSUS
2.2.1.   DEMOGRAFI
Jumlah keseluruhan penduduk Kecamatan Cibitung pada bulan Januari 2014 sebanyak 21.457 Jiwa, terdiri dari 10.991 laki-laki dan 10.466 wanita. Jumlah masyarakat miskin se-Kecamatan 16.019 jiwa, jumlah masyarakat miskin yang memiliki kartu Jamkesmas  sebanyak 15.538 jiwa yang seluruhnya tersebar di 10 Desa yaitu:
Tabel 2.1
Data Penduduk Miskin di Kecamatan Cibitung Sampai Dengan Tahun 2014

NO
DESA
JAMKESMAS
SKTM
JUMLAH
1
Citeluk
1283
-
1283
2
Sindangkerta
1206
473
1679
3
Kiarajangkung
1136
-
1136
4
Kutakarang
2565
-
2565
5
Cikiruh
1663
-
1663
6
Malangnengah
1110
-
1110
7
Cikadu
2382
-
2382
8
Manglid
1941
-
1941
9
Kiarapayung
1310
-
1310
10
Cikalong
942
-
942

JUMLAH
15.538
481
16.019
           
            Jumlah penduduk tahun 2014 dengan komposisi penduduk laki-laki 10.991 jiwa dan wanita 10.466 jiwa, ibu hamil 459 jiwa, bayi 419 jiwa, balita 2.042 jiwa, wus 5.309 jiwa, anak dan  remaja 8259 jiwa, lansia 1429 jiwa. Jumlah penduduk yang tinggal di daerah pantai sebanyak 7783 jiwa dari 4 Desa, dan yang tinggal di daerah perbukitan sebanyak 13.674  jiwa dari 6 Desa yang ada.
            Kepadatan penduduk Kecamatan Cibitung adalah seperti tabel di bawah ini:

Tabel 2.2
Distribusi Kepadatan Penduduk di Kecamatan Cibitung Tahun 2014

NO
DESA
LUAS WILAYAH (KM2)
JUMLAH RW
JUMLAH PENDUDUK
KEPADATAN PENDUDUK PER KM 2
1
Citeluk
18,11
5
1.974
106
2
Sindangkerta
18,02
5
1.457
78
3
Kiarajangkung
17,13
5
1.614
92
4
Kutakarang
21,18
6
3.138
140
5
Cikiruh
19,19
4
2.295
125
6
Malangnengah
17,15
3
1.635
92
7
Cikadu
18,12
6
3.322
180
8
Manglid
16,05
3
3.062
158
9
Kiarapayung
18,09
4
2.162
107
10
Cikalong
18,15
4
1.852
99

JUMLAH
180,72
45
22.511
119
            Sumber data : Disduk Capil Kec. Cibitung

Tabel 2.3
Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur  di Kecamatan Cibitung Tahun 2014

KELOMPOK UMUR
LAKI-LAKI
WANITA
TOTAL
0 – 14
4160
3.977
8646
15 – 64
6.227
5.891
9848
≥ 65
604
598
1202
TOTAL
10.991
10.466
21.457


2.2.2.   KELUARGA BERENCA (KB)
Pengelolaan kependudukan diwujudkan pada pengendalian jumlah penduduk yang salah satunya dengan menurunkan angka kelahiran dengan harapan terwujudnya pertumbuhan penduduk yang seimbang demi tercapainya peningkatan kesejahteraan dan kualitas keluarga. Rata-rata jumlah anggota keluarga di Kecamatan Cibitung dengan cara membandingkan jumlah penduduk dengan jumlah rumah tangga, maka diperoleh data jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tangga antara 4 – 5 orang. Tingginya jumlah keluarga di Kecamatan Cibitung salah satunya karena menurunnya jumlah akseptor KB. Jumlah pasangan usia subur yang ada sebanyak X pasangan, sedangkan wanita dengan status kawin dan ber KB dapat terlihat pada table berikut :
Tabel 2.4
Persentase Wanita Berstatus Kawin dan Ber- KB di Kecamatan Cibitung Tahun 2014
CARA/ALAT KONTRASEPSI
TAHUN
2013
FREKUENSI
(%)
IUD
MOW
MOP
INPLANT
SUNTIK
PIL
KONDOM
175
2
17
245
1.750
803
48
5,7
0,06
0,5
8,05
57,56
26,42
1,5
TOTAL
3.040
100
Sumber data :BP2KB Kecamatan Cibitung

2.2.3.    TINGKAT PENDIDIKAN
Salah satu ukuran yang fundamental dari status kesehatan masyarakat adalah tingkat pendidikan formal yang dimiliki oleh masyarakat.Tinggi rendahnya pendidikan masyarakat sangat berpengaruh terhadap persepsi, pemahaman, dan penalaran pengetahuan masyarakat terhadap produk kesehatan.

2.2.4.   SUMBER DAYA KESEHATAN
2.2.4.1.     Ketenagaan Kesehatan
Secara organisatoris ketersediaan tenaga pendukung pemberi pelayanan kesehatan pada masyarakat terdiri dari : 1 orang Kepala Puskesmas, 1 orang tenaga ketata usahaan, 1 orang dokter umum,15 orang perawat, 20 orang Bidan, 1 orang tenaga penyuluh Kesehatan masyarakat, 2 orang pengelola keuangan, dan 3 orang Administrasi. Jumlah bidan tinggal di desa 17 orang, tenaga pendukung kemitraan pelayanan kesehatan di Desa: Kader 175 orang dan yang terlatih 105 orang, dukun paraji 52 orang dan yang terlatih 34 orang.
2.2.4.2.     Sarana Dan Prasarana
a.Sarana
Ketersediaan sarana dan prasarana penunjang pelayanan kesehatan yang dimiliki oleh Puskesmas, yaitu :
Kendaraan roda empat 1 buah kondisi baik, roda dua 3 buah kondisi layak pakai dan 2 buah tidak layak pakai, poli klinik kit 2 set, Bidan kit 2 set, partus set 2 buah, IUD kit 1 set, Cool chain 10 buah, sterilisator 1 buah,
b.Prasarana
Puskesmas induk 1 buah, Poskesdes 3 buah, Pos Puskesling 10 Pos, Posyandu 35 Pos Posbindu 10 Pos.























BAB  III
PENCAPAIAN  PROGRAM   PUSKESMAS


3.1.  VISI, MISI, dan STRATEGI
3.1.1.   VISI
Visi menggambarkan cara pandang (walfare) jauh ke depan ke arah mana suatu organisasi harus di bawa agar tetap eksis, antisipatif, dan inovatif. Visi merupakan cita dan citra yang diinginkan oleh suatu organisasi di masa yang akan datang. Visi bersama Puskesmas Kecamatan Cibitung adalah “ Mewujudkan Masyarakat Cibitung yang berperilku hidup bersih,sehat dan mandiri melalui pelayanan prima”
Penjelasan dari Visi tersebut adalah :
1.      Visi untuk mewujudkan Masyarakat Kecamatan Cibitung yang hidup dalam lingkungan sehat, mandiri, berprilaku hidup bersih dan sehat , dan mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata menuju Pandeglang Berkah, yaitu upaya dimana kondisi masyarakat Kecamatan Cibitung memiliki status kesehatan yang optimal baik fisik, mental, sosial, dan spiritual yang penuh dengan keberkahan dalam hidup.



3.1.2.   MISI
Adapun untuk mensukseskan misi, maka seluruh staf menuangkan pernyataan bersama (mission statement) yang telah disatukan dalam sebuah tekad yaitu setuju untuk mengimplementasikan dan mengaplikasikan semua program  yang telah digariskan dengan tetap berupaya sesuai kemampuan agar organisasi dapat sukses, dengan motto “ SIAP BOS “ (Setuju, Implementasi, Aplikasi, Program, Berupaya, Organisasi, Sukses), dengan misi atau rencana aksi sebagai berikut :
Ø Berupaya menggerakkan agar setiap aktivitas pembangunan yang dilaksanakan oleh masyarakat di Kecamatan Cibitung harus berwawasan Kesehatan.
Ø Berupaya menyediakan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang komprehensip dan terpadu
Ø Memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu untuk hidup sehat secara mandiri melalui pembudayaan gerakan hidup bersih dan sehat
Ø Mengembangkan Desa Siaga.Aktif.

3.1.3.   STRATEGI
Prinsip utama agar sebuah visi dan misi dapat terwujud dengan baik, maka harus ada sinergisitas dari semua pihak untuk menjadi pelaku penyelenggaraan pembangunan kesehatan, yaitu :
Ø Profesionalisme
Ø Peningkatan peran serta masyarakat 
Ø Pembangunan berpola PKMD
Ø Peningkatan UKBM
Ø Masyarakat sebagai subjek pembangunan kesehatan.
Ø Kesejahteraan SDM Kesehatan di Puskesmas

3.2.  PROGRAM PRIORITAS
Program priorotas merupakan penjabaran yang lebih spesifik tentang apa yang akan dilaksanakan berdasarkan kebijakan yang telah ditetapkan olehpemerintah dan Kesepakatan Global Millenium Development Goal’s (MDGs). Keberhasilan suatu program akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian sasaran. Mengingat begitu banyaknya program dan banyaknya keterbatasan kemampuan, maka Puskesmas Cibitung telah membuat program prioritas/pokok sesuai dengan MDGs dan program pengembangan terbatas yang telah disusun dan dilaksanakan pada tahun 2014 antara lain :
PROGRAM POKOK :
1.    Program Kesehatan Ibu dan Anak dan KB (KIAR/KB)
2.    Program pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan (P2PL)
3.    Program peningkatan kesehatan dan perbaikan gizi Masyarakat
4.    Program promosi kesehatan
5.    Program pengobatan
6.    Program Kesehatan Lingkungan
PROGRAM PENGEMBANGAN :
1.    Puskesmas Keliling
2.    Perawatan kesehatan masyarakat/public health nursing (PHN)
3.    Usaha kesehatan sekolah (UKS)
4.    Olah Raga Kesehatan
5.    Posbindu
6.    Poskestren

3.3.  TUJUAN PELAYANAN
Tujuan pembangunan kesehatan masyarakat di Kecamatan Cibitung saat ini dan yang akan datang adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, yaitu :
1.    Menurunan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), angka kesakitan (mortalitas), dan angka kematian (morbiditas).
2.    Meningkatkan mutu kesehatan lingkungan kehidupan masyarakat
3.     Menurunkan jumlah sasaran balita di bawah garis merah
4.    Meningkatkan pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat
5.    Mengurangi angka kesakitan (mortalitas) dan angka kematian (morbiditas)
6.    Penerapan fungsi-fungsi manajemen di Puskesmas pada setiap kegiatan pelayanan.

3.4.  SASARAN DAN TARGET

Untuk mewujudkan tujuan di atas diperlukan operasional melalui uraian sasaran dengan menggunakan pendekatan SISTEM dengan out put sebagai berikut :
1.    Peningkatan pelayanan KIA : Cakupan K1 (90%), K4 (80%), persalinan oleh Nakes (84%), bumil resti dirujuk (100%), cakupan kunjungan neonatus (84%), cakupan kunjungan bayi (76%), cakupan BBLR yang ditangani (100%), cakupan Yankes ibu dan bayi (80%), cakupan anak sekolah dan remaja (80%).
2.    Peningkatan upaya pencegahan penyakit menular (P2PL) : Intensifikasi surveilans epidemiologi melalui pelaksanaan system kewaspadaan dini (SKD) 100%, cakupan UCI 90%, eliminasi kusta proporsi cacat Tk. II (5%), angka kesembuhan PB (95%), angka kesembuhan MB (90%), penemuan pneumonia (86%), cakupan tatalaksana pneumonia (50%), angka bebas jentik (95%), tatalaksana diare sesuai standar (80%), cakupan pelayanan TBC (50%), angka kesembuhan TBC (85%), angka konversi TBC (80%), angka kesalahan laboratorium (5%)
3.    Peningkatan pelayanan gizi : balita yang naik BB (66%), balita BGM (kurang 18%),  bumil dan balita mendapat kapsul vit. A dalam 2 x setahun (76%), balita gizi buruk mendapat perawatan (64%), Desa dengan garam yodium 76%, MP-ASI pada bayi BGM Gakin 64%, dan ASI ekslusif bayi 0-6 bulan (47%).
4.    Peningkatan pelayanan kesehatan lingkungan : keluarga yang menggunakan jamban saniter (58%), keluarga memanfaatkan sarana air bersih (55%), air bersih yang memenuhi syarat bakteriologis (80%), keluarga yang menempati rumah sehat (35%), TTU yang memenuhi syarat kesehatan (63%).
5.    Bertambahnya jumlah dan mutu sarana pelayanan kesehatan masyarakat melalui tersedianya Puskesmas  sesuai ratio, tersedianya Poskesdes sesuai ratio, terpenuhinya alat-alat kesehatan di sarana kesehatan sesuai ratio, terpenuhinya Puskesmas dengan kemampuan UGD sesuai ratio.
6.    Meningkatnya frekuensi penyuluhan kesehatan dari 12 kali per tahun menjadi 24 kali pertahun
7.    Meningkatnya kerjasama lintas sektoral dan kemitraan dengan pihak terkait, adanya peningkatan strata  posyandu, adanya peningkatan Poskestren
8.    Terciptanya pemahaman yang jelas terhadap visi dan misi Puskesmas, arah kebijakan, tupoksi kerja masing-masing di Puskesmas, tersusunnya rencana kerja harian, bulanan, dan tahunan untuk masing-masing pelaksana, adanya pendokumentasian dan pelaporan program.
9.    Tersusunnya laporan tahunan bagi masing-masing program, tersusunnya profil kesehatan Puskesmas, terselenggaranya system monitoring dan evaluasi pada setiap unit program, tersedianya bank data di Puskesmas.

3.5.  KEBIJAKAN
Umumnya kebijakan yang dilaksanakan di Puskesmas dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan strategi di atas adalah dengan mengoptimalkan upaya-upaya peningkatan program sesuai dengan kebijakan dari supra struktur seperti Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang dan Pemerintah Pusat sesuai dengan pedoman pelaksanaan dan petunjuk teknis (juknis) yang berlaku.

3.6.  UPAYA-UPAYA PROGRAM PUSKESMAS

Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Puskesmas selama tahun 2014 untuk program pokok melalui kegiatan utama dan kegiatan terintegrasi serta kegiatan manajemen adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1
Upaya-upaya Program  Puskesmas di Kecamatan Cibitung Tahun 2014


PROGRAM POKOK
KEGIATAN
 UTAMA
KEGIATAN
ITEGRASI
KEGIATAN MANAJEMEN SETIAP PROGRAM

KIA/KB
·   ANC/PNC
·   Pertolongan persalinan normal
·   Rujukan
·   Pemeriksaan efek samping
·   Pelayanan kontrasepsi
·   Kemitraan/ P4K
·   AMP sosial Desa
·   Imunisasi
·   Pemeriksaan Hb
·   Penimbangan BB anak
·   Pembagian Fe
·   Pembagian vit. A
·   Pendidikan kesehatan dan Konseling


·      Perencanaan
·      Manajemen personalia
·      Pelatihan
·      Supervisi/monitoring program
·      Manajemen keuangan
·      Manajemen logistik
·      Koordinasi lintas program dan sektoral
·      Kerjasama dengan kelompok masyarakat
·      Pencatatan dan pelaporan













·      Perencanaan
·      Manajemen personalia
·      Pelatihan
·      Supervisi/monitoring program
·      Manajemen keuangan
·      Manajemen logistik
·      Koordinasi lintas program dan sektoral
·      Kerjasama dengan kelompok masyarakat
·      Pencatatan dan pelaporan

P2PL
·   Surveilans epidemiologi
·   Imunisasi
·   Pemberantasan vektor
·   Pendidikan kesehatan
·   Kebersihan lingkungan
·   Pengobatan

GIZI
·   Penimbangan anak
·   Pemeriksaan Hb
·   Pemberian PMT, vit. A, tab. Fe
·   Penkes dan Konseling

PROMKES
·   Penyuluhan secara ber kelompok
·     Penyuluhan penyakit berbasis lingkungan
·     Penyuluhan kesehatan reproduksi
·     Penyuluhan kadarzi
·     Penyuluhan PHBS
·     Sosialisasi pemanfaatan kartu jamkesmas
·     Penyuluhan khusus penyakit malaria di lokasi KLB

PENGOBATAN
·   Pemeriksaan pasien
·   Diagnosis
·   Pengobatan
·   Rujukan
·     Pendidikan kesehatan dan konseling

PHN
·   Kunjungan dan perawatan pasien di rumah (home visite)
·     Pendidikan kesehatan dan konseling
·     Pengobatan
·     Keg. Kesling
·     Keg. KIA
·     Keg.gizi

UKS
·   Pelayanan kesehatan di sekolah dengan sasaran murid dan lingkungan sekolah
·     Pemeriksaan kesehatan lingkungan sekolah
·     Pemeriksaan kesehatan dan Pengobatan anak sekolah
·     Saka Bhakti Husada
·     Imunisasi BIAS
·     Pendidikan kesehatan

LABORATORIUM SEDERHANA
·   Pemeriksaan sediaan darah dan sputum
·   Rujukan
·     Kegiatan Program TB paru
·     Kegiatan Program KIA
KESLING




PUSLING




































BAB IV
PENCAPAIAN  PROGRAM  PUSKESMAS

5.1.        Status Kesehatan Masyarakat
5.1.1. Angka Kematian
5.1.1.1.  Angka Kematian Ibu (AKI) dalam satu tahun
Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu karena kehamilan dan persalinan di Kecamatan Cibitung dalam satu tahun per 100.000 kelahiran hidup.Hal ini dapat bermanfaat untuk mengetahui tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi ibu, kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terhadap ibu.Pada kesempatan ini Puskesmas tidak melakukan penghitungan AKI, karena hal ini merupakan kompetensi supra struktur, apalagi angka kelahirannya untuk tingkat Kecamatan tidak mencapai 100.000 orang. Adapun data dan informasi Puskesmas dapat ditampilkan jumlah dan penyebab kematian ibu pada tabel sebagai berikut :
  Sumber data : Unit KIA,SP3 Puskesmas
Berdasarkan tabel 4.1 di atas sepanjang tahun 2014 bahwa kematian Ibu Maternal terbanyak adalah pada Ibu Bersalin yaitu 2 kasus.

 Sumber data : Unit KIA,SP3 Puskesmas
Berdasarkan tabel 4.2 di atas bahwa seluruh kematian Ibu Maternal disebabkan oleh pendarahan(100%).

5.1.1.2.  Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR)
Angka kematian bayi adalah jumlah kematian bayi di bawah satu tahun setiap 1000 kelahiran hidup.Angka ini merupakan indikator sensitif terhadap ketersediaan, pemanfaatan pelayanan kesehatan terutama pelayanan perinatal, dan merupakan indikator terbaik untuk menilai pembangunan sosial ekonomi masyarakat secara keseluruhan.Namun angka ini tergantung dari survey yang dilakukan oleh lembaga berwenang dan kompeten. Adapun data dan informasi Puskesmas dapat ditampilkan jumlah dan penyebab kematian bayi di puskesmas Cibitung dapat di tampilkan seperti  tabel berikut :

 Sumber data : Unit KIA
Berdasarkan tabel 4.3 di atas sepanjang tahun 2014 bahwa kematian Bayi terbanyak adalah pada usia 0-7 hari yaitu 6 kasus.

              Sumber data : Unit KIA,SP3 Puskesmas

Berdasarkan tabel 4.4 di atas bahwa seluruh kematian bayi disebabkan oleh Aspiksia (100%).

5.1.1.3. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Menurut Amartya Sen dan Mhbub Ul Haq et.al.(1990), Indeks Pembangunan Manusia adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek hurup, pendidikan, dan standar hidup untuk semua Negara di seluruh Dunia. Salah satu tolok ukur IPM adalah angka harapan hidup dimana untuk Kabupaten Pandeglang pada tahun 2009 baru mencapai 63 tahun, sedangkan untuk provinsi Banten yaitu 70 tahun. Dari 8 kabupaten/Kota di Provinsi Banten IPM Pandeglang berada di urutan ke-7, satu tingkat di atas Kabupaten Lebak dengan selisih 0,2 point. (Radar Banten edisi 222 tahun XI hal. 17).

5.1.2.   Angka Kesakitan
5.1.2.1.  Kasus 20 Besar Penyakit
Tabel 4.5
Distribusi Kasus 20 Besar Penyakit di Kecamatan Cibitung Tahun 2013-2014

No.
Urt.

Kode ICD
Tahun 2013
Kode ICD
Tahun 2014


Trend
Kasus
%
Kasus
%
1
J06
Infeksi sal.nafas akut Ytt
6,82
J06
Infeksi sal.nafas akut Ytt
7,39
2
A09.1
Diare dan gastroenteritis
6,79
A09.1
Diare dan gastroenteritis
7,28
3
K29
Gastritis dan duodenitis
5,60
K29
Gastritis dan duodenitis
7,08
4
L30
Dermatitis lainnya
5,55
L30
Dermatitis lainnya
5,99
5
J11
Influensa karena virus Ytt
5,45
J11
Influensa karena virus Ytt
5,09
6
R05
Batuk
5,35
R05
Batuk
5,00
7
R50
Demam Ytt
5,16
R50
Demam Ytt
4,92
8
L98
Gg. lain kulit & jar. Sub kutan Ytt
5,00
L98
Gg. lain kulit & jar. Sub kutan Ytt
4,72
9
M79.2
Neuralgia dan Neuritis
4,82
M79.2
Neuralgia dan Neuritis
4,60
10
A09.2
Diare disentri basiler
4,83
A09.2
Diare disentri basiler
4,54
11
H10
Konjunctivitis
4,77
H10
Konjunctivitis
4,49
12
A01
Demam tifoid & paratifoid
4,68
A01
Demam tifoid & paratifoid
4,41
13
R05
Sakit kepala
4,63
R05
Sakit kepala
4,35
14
I10
Hipertensi essensial (primer)
4,48
I10
Hipertensi essensial (primer)
4,24
15
K02
Karies gigi
4,46
K02
Karies gigi
4,18
16
M10
Gout
4,44
M10
Gout
4,14
17
M13
Artritis lainnya
4,38
M13
Artritis lainnya
4,09
18
L02
Abses,furunkel & karbunkel kutan
4,36
L02
Abses,furunkel & karbunkel kutan
3,99
19
G18
Pneumonia
4,31
G18
Pneumonia
3,98
20
H65
Otitis media non supuratif
3,10
H65
Otitis media non supuratif
3,88
21
XVII
Penyakit lain-lain
1,00
XVII
Penyakit lain-lain
1,63









Sumber data : BP Puskesmas, SP2 Puskesmas

5.1.2.2.  Pemberantasan Penyakit Endemik Malaria (P2 Malaria)
Pelaksanaan kegiatan pemberantasan penyakit malaria di Kecamatan Cibitung dilakukan di daerah endemis malaria seperti di Desa Kutakarang,Kiarajangkung, Sindangkerta, dan Citeluk dengan melakukan prosedur tetap pemeriksaan darah tepi/DDR ketika ditemukan tersangka (suspek) malaria dan dilakukan pengobatan serta pengasapan (Fogging Focus) ketika terjadinya peningkatan kasus yang mengarah kepada kejadian luar biasa (KLB) yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang.
5.1.2.3.    Pemberantasan Penyakit TB-Paru
Kegiatan pemberantasan penyakit TB Paru merupakan program Nasional dalam mengeliminasi penderita TB Paru, melalui beberapa kegiatan atau indikator penting yaitu angka penemuan kasus baru, angka konversi, angka kesembuhan, dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium.
Dalam pelakanaan pemberantasan TB Paru di Kecamatan Cibitung mempunyai spesifikasi tersendiri dibandingkan dengan program intervensi lainnya, salah satunya adalah pengobatan kasus TB Paru yang panjang yaitu 6 – 9 bulan. Lamanya pengobatan terhadap penderita menjadikan faktor penyebab kejenuhan dalam proses pengobatan dan merupakan prosedur baku yang harus ditempuh agar penderita TB Paru dapat sembuh secara total dan menetap. Pemberantasan TB Paru yang dijalankan dengan menggunakan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS), yaitu pengobatan penderita dalam jangka pendek melalui pengawasan langsung oleh pengawas minum obat.
Hasil pencapaian pelaksanaan kegiatan pemberantasan penyakit TB Paru tahun 2014 masih sangat rendah sehingga perlu ditingkatkan baik kuantitas maupun kualitasnya, hal ini terlihat dari :
·                     Cakupan pelayanan TB Paru 71% dari target 60%
·                     Angka kesembuhan TB Paru 81% dari target 85%
·                     Angka konversi kasus TB Paru 27% dari target 80%.
Pemberantasan penyakit ini sangat membutuhkan dukungan dan kerjasama di tingkat pelayanan guna mencapai cakupan yang ditargetkan antara lain :
§     Masih sedikitnya sumberdaya manusia kesehatan yang terpapar program TB Paru terutama dengan pendekatan strategi DOTS
§     Rendahnya motivasi pengelola TB Paru Puskesmas dan tingginya rasa ketakutan terhadap resiko penularan
§     Sarana dan prasarana laboratorium belum memadai
§     Masih rendahnya keterampilan petugas laboratorium.

5.1.2.4.    Surveilans Epidemiologi
Adanya kegiatan surveilans epidemiologi di Kecamatan Cibitung yaitu dengan terwujunya sistem kewaspadaan dini (SKD) dan respon dini terhadap penyakit-penyakit yang berpotensi wabah atas partisipasi masyarakat.Pelaksanaan SKD di Puskesmas mempunyai arti yang sangat besar, karena Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dapat lebih sensitif dalam mendapatkan informasi-informasi penyakit yang mempunyai kecenderungan terhadap wabah berdasarkan pemantauan mingguan Puskesmas, sehingga setiap peningkatan kasus dapat dideteksi sedini mungkin.
Pelaksanaan SKD dan respon dini penyakit berpotensi wabah masih belum optimal, hal ini disebabkan karena kurangnya motivasi petugas, pemantauan kecenderungan terhadap peningkatan kasus belum didukung oleh situasi dan kondisi lingkungan dan kelompok yang rentan sebagai faktor resiko, ketidak lengkapan dan ketepatan pemantauan mingguan wabah Puskesmas (W2). Seharusnya dalam tahun 2014 jumlah kelengkapan laporan W2 minimal sebanyak 48 kali (100%),  data yang ada hanya 48 kali laporan (1,00%).
Dampak musim panca roba, menyebabkan terjadinya peningkatan kasus Diare yang mengarah pada kejadian luar biasa (KLB) di Desa Cikiruh pada bulan November 2014 Faktor-faktor pemicu terjadinya peningkatan kasus yang mengarah pada KLB tersebut antara lain adalah :
·                     Kurang optimalnya pemantauan mingguan wabah (W2) yang berjalan
·                     Kurangnya respon petugas surveilans terhadap peningkatan kasus yang terjadi (epidemi) dalam memastikan dan mencegah luas sebaran kasus
·                     Lemahnya koordinasi lintas program dalam mendapatkan data dan informasi yang valid dan akurat
·                     Kurang responnya pembina Desa terhadap kasus-kasus potensi wabah.

5.1.2.5.  PemberantasanPenyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit DBD merupakan penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus dengue yang dapat ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty, dan bersumber binatang melalui nyamuk aedes aegypty dan aedes albopictus sebagai vektornya, dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu yang singkat dan sering menimbulkan wabah. Salah satu hasil pelaksanaan kegiatan pencegahan dan pemberantasan DBD melalui penyuluhan-penyuluhan kelompok yang telah dijalankan, menggambarkan tidak ditemukannya kasus yang dilaporkan dari tingkat Desa,dan tidak adanya kasus yang ditangani di Puskesmas dan jaringannya. Namun pengukuran angka bebas jentik (ABJ) secara berkala setiap tiga bulan sekali di Kecamatan Cibitung belum pernah dilaksanakan, karena terkendala dana yang tersedia dan hal-hal teknis dilapangan.

5.1.2.6.    Eliminasi Kusta
Eliminasi kusta merupakan komitmen global. Pelaksnaan program pemberantasan kusta di kecamatan Cibitung dilakukan pada Desa yang terdapat penderita kusta yaitu Desa Manglid 1 kasus kusta tipe MB dan Desa Malangnengah 1 kasus  (1/21.457 penduduk) dan belum dinyatakan sembuh, ini berarti masih di atas target Nasional yaitu 1/10.000 penduduk. semua penderita kusta kemungkinan  semua ditemukan oleh petugas, mengingat bahwa kinerja petugas Puskesmas bagus  dan  pernah mendapatkan pelatihan.
5.1.2.7.     Pemberantasan penyakit Diare
Indikator keberhasilan pelaksanaan program diare yaitu dengan melihat pencapaian target (100%) dari jumlah penderita diare pada balita.
Kualitas penatalaksanaan penderita diare di Kecamatan Cibitung yaitu dengan melihat besaran penderita yang mendapat oralit dibandingkan dengan seluruh penderita yang ditemukan dan mendapatkan pelayanan yaitu sebayak 384 penderita.Jumlah penderita diare pada balita pada tahun 2014 sebanyak 146 penderita.Kinerja program belum berjalan sebagai mana mestinya.
5.1.2.8.       Pemberantasan Penyakit ISPA
Fokus kegiatan program P2 ISPA adalah penemuan dan penatalaksanaan penderita pneumonia pada balita.
Pneumonia adalah penyakit batuk pilek yang disertai oleh nafas cepat, sesak nafas, dan kadang disertai bunyi nafas (weezing).Penyakit ini merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi dan balita.Jumlah penderita ISPA pada balita pada tahun 2014 sebanyak 23 penderita.
Kinerja program belum berjalan sebagai mana mestinya.

5.1.2.9.          Penyakit PD3I
Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) di Kecamatan Cibitung dalam tahun 2014 meliputi penyakit Campak dan penyakit Tetanus Neonatorum.Kedua penyakit ini merupakan penyakit potensial yang sering menimbulkan wabah.
Selama tahun 2014 terutama penyakit Campak mempunyai resiko cukup besar sehingga memungkinkan terjadinya transmisi yang sangat cepat. Adapun jumlah penderita Campak pada tahun 2014 sebanyak 25 penderita dan meninggal 0 orang (AR 0,0% dan CFR 0%). Dari jumlah kelompok yang beresiko adalah 111 orang, sehingga angka serangan penyakit ini terhadap anak yang berusia < 15 tahun yang menyerang di 3 Desa.
Adapun jumlah kasus Tetanus Neonatorum pada tahun 2014 tidak ada,Sedangkan kelompok resiko kejadian Tetanus Neonatorum adalah 12  bayi, sehingga angka serangan (AR) penyakit ini sebesar 11,1% kelahiran hidup dan angka kematian (CFR) sebesar 0,0%.
Kendala-kendala dalam penanganan penyakit PD3I adalah sebagai berikut :
1.            Masih banyaknya kelompok yang rentan terhadap penyakit PD3I
2.            Masih banyaknya daerah rawan penyakit PD3I
3.            Masih tingginya pengaruh faktor resiko yang menyebabkan timbulnya kejadian wabah penyakit PD3I.
4.            Kurang optimalnya program intervensi dalam menekan penyebaran penyakit
           PD3I
5.            Belum dimilikinya assessment dalam pencapaian issue global reduksi Campak dan Eliminasi Tetanus Neonatorum.
5.1.2.10.        Katarak
Jumlah penderita katarak yang ditangani oleh Puskesmas dan jaringannya pada tahun 2014 dan telah dilakukan operasi sebanyak 2 orang.Pengelola program belum optimal dalam memanajemen programnya, sehingga belum diperoleh data pasti dan target penderita katarak di Kecamatan Cibitung.
5.1.2.11.        Kesehatan Jiwa
Di Puskesmas Cibitung untuk program kesehatan jiwa belum tergarap, mengingat adanya keterbatasan-keterbatasan kemampuan sumberdaya.Namun demikian penderita tetap terlayani dengan menerapkan system rujukan. Berdasarkan pengamatan di lapangan sering ditemukan masyarakat dengan gangguan kejiwaan, seperti :
§     Gangguan akibat penggunaan zat psikoaktif
§     Gangguan psikotik fungsional dan organic
§     Gangguan anxietas, depresi, somatoform, psikosomatik
§     Kecerdasan di bawah normal
§     Masalah insomnia, makan, ketakutan, tingkah laku, kesehatan belajar
§     Epilepsi
Tetapi hal itu sulit dilakukan intervensi, karena kurangnya pemahaman positif masyarakat terhadap kesehatan kejiwaan.
5.1.3.   Status Gizi
Penimbangan balita tahun 2014 tercatat jumlah balita 2.245 orang, dan ditimbang sebanyak 1.986 balita. Dari jumlah tersebut diketahui balita dengan status gizi buruk sebanyak 8 (1,32%), balita dengan klasifikasi marasmus 0 orang, kwashiorkor 0 orang, marasmik kwashiorkor 0 orang, dan tanpa gejala klinis sebanyak 8 orang. Sedangkan balita dengan status gizi kurang yang cukup banyak sangat berpotensi menjadi gizi buruk, maka masalah kekurangan energy protein (KEP) menjadi ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia.

5.2.         Analisa Hasil Dengan Memakai Pendekatan Sistem
Analisa hasil pelayanan kesehatan yang dipakai adalah dengan menggunakan pendekatan system berupa Input, Proces, Out-Put, Effect, Out-Come (Impact).
a.            Input
§    Man (tenaga) : Kepala Puskesmas 1 orang, Kasubag Tata Usaha 1 orang Dokter 1 orang, Perawat 15 orang, Bidan Desa 20 orang, penyuluh kesmas 1 orang, Administrasi 3 orang Sopir 1 orang Cleaning service 1 Orang, Kader 105 orang, Paraji 34 orang.
§    Money (dana) : Program JKN Rp 428.051.000; Program BOK Rp72.000.000; Dana Oprasional (DOP) Rp9.304.000 dari jumlah setoran Rp1.200.000; dengan target Rp18.608.000
§   Material (logistic) : Dukungan sarana kesehatan di puskesmas Cibitung  terdiri dari:Obat sesuai LPLPO, vaksin sesuai sasaran, alat-alat kesehatan cukup bagus, kendaraan R4 1 buah  layak pakai, R2 5 buah 2 tidak berfungsi.
§   Metoda : keterampilan petugas 80% sarjana  Profesional, prosedur kerja tersedia, peraturan dan kebijakan sesuai ketentuan yang berlaku.
§   Minute (waktu) : jangka waktu pelaksanaan kegiatan bulanan dan tahunan sesuai dengan rencana kerja operasional (RKO) yang telah disusun.
§   Market (sasaran) : sasaran pelayanan program ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, & masyarakat. Umumnya persepsi masyarakat terhadap kesehatan, baik masyarakat sektoral maupun masyarakat umum masih kurang sehingga menghambat cakupan kegiatan program.
b.            Proccess
Perencanaan (P1), Pengorganisasian (P2), Penggerakkan dan Pelaksanaan program, pengawasan dan Pengendalian (P3) untuk kelancaran kegiatan (kegiatan pokok dan kegiatan terintegrasi/pengembangan) dari program Puskesmas, seperti: KIAR/KB, P2PL, Peningkatan Gizi Masyarakat, Promosi Kesehatan, Pengobatan, PHN, UKS, Kesling.
c.            Out-Put
Batasan cakupan kegiatan program yang dipakai yaitu jumlah kelompok masyarakat yang diberikan pelayanan kesehatan (memerator) dibandingkan dengan jumlah kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program (denominator).
Pelayanan yang diberikan sesuai dengan program pokok Puskesmas berupa pelayanan kesehatan yang komprehensif yaitu promotive, preventive, curative, dan rehabilitative,  dengan deskripsi cakupan hasil selama tahun 2014 sebagai berikut :
1.            Program KIAR :
§  Kunjungan K4                                              : 308 orang (64,71%)
§  Kunjungan KN2                                         : 274 orang (63,28%)
§  Pertolongan persalinan oleh Nakes        : 226 orang (49,78%)
2.            Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan(P2PL) :
§  Cakupan imunisasi rutin menurut jenis antigen :
o        BCG                                                   : 98,%
o        DPT 1                                                 : 98,%
o        DPT 2                                                 : 95,%
o        DPT 3                                                 : 93,%
o        Polio 1                                                : 98,%
o        Polio 2                                                : 95,%
o        Polio 3                                                : 93,%
o        Polio 4                                                : 90,%
o        Campak                                             : 90,%
o        HVB (0-7)                                          : 80,%
o        HVB Combo                                      : 90%
o        TT 1                                                    : 80,%
o        TT 2                                                    : 80,%
§  Imunisasi anak sekolah :
o        Kelas 1                                               : 98,2%
o        Kelas 2                                               : 97,3%
o        Kelas 3                                               : 96,9%
§  Kesehatan lingkungan :
o        Cakupan jamban sehat                              : 36,6%
o        CakupanSarana air bersih                                    : 40,6%
o        Cakupan Rumah sehat                              : 46,6%
o        Cakupan SPAL                                            : 36,6%
o        Jumlah penyuluhan keamanan pangan            : 0%
3.            Peningkatan Gizi Masyarakat
§     Cakupan N/D                                               : 36,6%
§     Cakupan vitamin A  6-11 bulan                 : 82%
§     Cakupan vitamin A 1-5 tahun                  : 60,8%
§     Cakupan tablet Fe bumil                            : F1 : 91,3%, F2 : 64,8%
§     Cakupan kapsul iodium WUS                   : 80%
§     Cakupan kapsul iodium bumil                  : 80%
§     Cakupan kapsul iodium bufas                  : 80%
4.            Promosi Kesehatan
Jumlah penyuluhan kesehatan pada masyarakat selama tahun 2014 dengan frekuensi sebanyak 12 kali melalui pendanaan program Bantuan Operasional Kesehatan dan Jamkesmas.
5.            Pengobatan
§     Jumlah kunjungan RJTP               : 21.143 (100,0%)
§     Jumlah kunjungan baru                 : 436 (2,06%)
§     Jumlah kunjungan lama                :20.707 (97,3%)
§     Cakupan SPM                                  : 14,3%
§     Jumlah kunjungan Maskin                        : 15.955 (100,%)
§     Jumlah kunjungan baru                 : 436 (2,9%)
§     Jumlah kunjungan lama                :15.519 (97,3%)
§     Cakupan SPM                                  : 11,9%
6.            Perkesmas/ Public Health Nusing (PHN)
§     Jumlah maternal resiko                  : 95 kasus
§     Jumlah bayi resiko                          : 64 kasus
§     Jumlah balita resiko                                    : 57 kasus
§     Jumlah penyakit menular/sporadis: 11 kasus
§     Jumlah tindak lanjut perawatan    : 43 kasus
§     Jumlah DO program                        : 0 kasus
§     Jumlah hasil pembinaan               :
o        KM I                                                    : 0 kasus
o        KM II                                                   : 0 kasus
o        KM III                                                  : 0 kasus
o        KM IV                                                 : 0 kasus
7.            Upaya Kesehatan Sekolah (UKS)
§     Jumlah sekolah binaan SD/SLTP/SLTA : 22 buah
§     Jumlah dokter kecil                                    : 35 orang
§     Jumlah sekolah sehat                                :  7 buah
8.            Laboratorium Sederhana
Upaya laboratorium sederhana yang ada di Puskesmas baru sebatas pemenuhan kegiatan program TB Paru dan pemeriksaan Hb. Ibu hamil. Program belum berjalan dengan optimal, karena adanya keterbatasan kemampuan petugas.

d.            Effect
Secara umum perubahan perilaku dan peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan masih rendah, hal ini karena masih kurangnya perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap kesehatan.

e.            Out-Come (Impact)
Sejauh ini Puskesmas belum melakukan pengukuran status kesehatan masyarakat dalam hal tingkat dan jenis kesakitan (morbiditas), tingkat kematian spesifik berdasarkan sebab penyakit tertentu (mortalitas), tingkat kematian ibu (AKI), tingkat kematian bayi (AKB), tingkat kesuburan dan kelahiran (fertilitas), dan tingkat kecacatan (Handicap) karena memang bukan merupakan  kewenangan tingkat Puskesmas.





BAB V
PENUTUP

Dalam upaya meningkatkan kinerja Puskesmas untuk pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan kesehatan di Kecamatan Cibitung agar lebih efektif, efisien, dan produktif, maka penyusunan Profil tahunan ini merupakan gambaran dan bahan pertimbangan bagi seluruh pelaksana program di Puskesmas dan jaringannya dan bagi lintas sektor.
Keberhasilan pencapaian pembangunan kesehatan di Kecamatan Cibitung sangat tergantung pada sikap mental berupa niat, tekad kuat, semangat, ketaatan, dan disiplin, serta komitmen bersama dari seluruh stakeholder terkait dan seluruh lapisan masyarakat.
Oleh karenanya seluruh pengelola program dan penanggung jawab kegiatan di Kecamatan Cibitung agar bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kegiatan program sesuai rencana kegiatan operasional (RKO), agar mampu memberikan kontribusi pembangunan yang berdaya guna dan berhasil guna, sehingga pembangunan kesehatan dapat dinikmati secara adil dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat di Kecamatan Cibitung dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
Setiap program wajib menerapkan prinsip-prinsip efektif, efisien, transparansi, akuntabel, dan partisipatif dalam melaksanakan program dan kegiatannya sesuai dengan pedoman pelaksanaan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan, sasaran pada program serta kegiatan pembangunan kesehatan di Kecamatan Cibitung secara berkelanjutan.
Pelaksanaan seluruh kegiatan, baik dalam kerangka anggaran maupun kerangka kebijakan, memerlukan pentingnya keterpaduan dan sinkronisasi antar program dan kegiatan, baik antar kegiatan dalam satu unit program maupun dengan unit  lainnya.
Dengan tersusunnya Profil Tahun 2014 Pembangunan Kesehatan di Kecamatan Cibitung ini, diharapkan dapat dijadikan dasar pedoman dan dasar evaluasi serta laporan pelaksanaan atas kinerja tahunan Puskesmas Kecamatan Cibitung, serta sebagai dasar untuk mencari upaya-upaya terobosan dalam upaya pencapaian Visi Puskesmas Cibitung dan mendukung Visi Dinas Kabupaten Pandeglang mendatang serta akselerasi tujuan MDGs.
Tentunya penyusunan Profil tahun 2014 masih banyak kekurangan dan kelemahan baik dalam tata bahasa penulisan dan penampilan maupun dalam  penentuan strategi pelaksanaan kebijakannya. Atas dasar itulah, berbagai masukan yang bersifat korektif sangat dibutuhkan oleh sekretariat Puskesmas Cibitung untuk lebih menyempurnakan dokumen profil Puskesmas dari tahun ke tahun.