BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Puskesmas
merupakan unit organisasi kesehatan terdepan yang mempunyai misi sebagai pusat
pengembangan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan
kesehatan secara komprehensip dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal disuatu
wilayah kerja tertentu.
Berdasarkan
misi tersebut, Puskesmas Cibitung mempunyai kewenangan dan tanggungjawab dalam
memberikan pelayanan kepada seluruh lapisan masyarakat yang secara
administratif berdomisili di wilayah kerja Puskesmas. Bentuk pelayanan
kesehatan yang diberikan Puskesmas Cibitung bersifat pelayanan komprehensip ( Coprehensive Health Care Service ) yang meliputi aspek
Promotif, Preventif, Kuratif, dan
Rehabilitatif. Prioritas pelayanan yang diselenggarakan yaitu diarahkan ke
bentuk pelayanan kesehatan dasar ( Basic
Health Care Service ).
Untuk
mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut diperlukan suatu indikator
Indonesia sehat dan indikator kinerja standar pelayanan minimal (SPM) bidang
kesehatan. Indikator tersebut dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu (1)
indikator derajat kesehatan sebagai hasil akhir (Impact), seperti mortalitas, morbiditas, AKI, AKB, dan status gizi,
(2) indikator hasil antara, seperti keadaan lingkungan, perilaku hidup sehat,
akses pelayanan, dan mutu pelayanan kesehatan, dan (3) Indikator proses masukan
(Input) dan proses (Proccess), seperti pelayanan kesehatan,
sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan, dan kontribusi sektor terkait.
Berkaitan
dengan pembangunan kesehatan di Kecamatan Cibitung, Puskesmas Cibitung sejak
beroperasi tanggal 17 April 2006 telah menyusun sebuah Visi, Misi, Strategi
bersama guna mendukung Kabupaten Pandeglang sehat, serta berkomitmen untuk melaksanakan berbagai upaya-upaya Pokok
Puskesmas yang terbagi dalam program wajib dan program pengembangan. Akan
tetapi, Puskesmas sebagai salah satu pusat pelayanan kesehatan masyarakat
secara umum, saat ini tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga
sebagai sarana untuk mengumpulkan informasi-informasi kesehatan
masyarakat.Sebagai sarana penampung informasi kesehatan, Puskesmas memerlukan
manajemen informasi, sehingga informasi-informasi yang sudah ditampung dapat
diolah dengan cepat dan akurat yang nantinya dapat digunakan sewaktu-waktu untuk
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakan dengan lebih efektif dan
efisien.
Salah
satu manajemen informasi kesehatan yang dapat digunakan untuk melaporkan hasil
pencapaian dan hasil kinerja dari penyelenggaraan pelayanan minimal bidang
kesehatan adalah profil kesehatan Puskesmas Kecamatan Cibitung.Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa profil kesehatan Kecamatan Cibitung pada intinya berisi
berbagai data dan informasi yang menggambarkan tingkat pencapaian Kecamatan
sehat dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan
minimal (SPM) bidang kesehatan. Meskipun data yang diolah, dianalisis, dan
disajikan belum seluruhnya dapat dimanfaatkan secara tepat guna, maka perlu
penyesuaian dan penyempurnaan dari waktu ke waktu oleh Puskesmas Cibitung,
tetapi tetap merupakan salah satu sumber informasi yang dapat dimanfaatkan
untuk saat ini dan diwaktu mendatang.
1.2. Tujuan
Tujuan disusunnya Profil kesehatan Kecamatan Cibitung
tahun 2014
antara lain adalah :
a.Sebagai
sarana untuk memantau dan mengevaluasi pencapaian program Puskesmas Cibitung;
b..Sebagai
masukan bagi kepala wilayah kecamatan dan Dinas kesehatan Kabupaten tentang
upaya-upaya Puskesmas Cibitung dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat
di Kecamatan Cibitung;
c.Sebagai data
dan informasi yang mendeskripsikan tingkat pencapaian derajat kesehatan
masyarakat di Kecamatan Cibitung;
d.Sebagai
pendeskripsian dari kinerja standar pelayanan minimal bidang kesehatan di
Kecamatan Cibitung.
1.3.
Sistematika Penyusunan
Untuk mendukung penyajian informasi kesehatan yang akurat
sehingga dalam profil ini dapat memberi gambaran terhadap upaya kesehatan yang
telah dilaksanakan di Kecamatan Cibitung selama tahun 2014, maka sistematika penyusunan buku
profil kesehatan di Kecamatan Cibitung Kabupaten Pandeglang adalah sebagai
berikut :
Bab
I : Pendahuluan
Bab
ini berisi penjelasan tentang latar belakang dan tujuan dibuatnya profil
kesehatan di kecamatan Cibitung, serta sistematika penyajiannya.
Bab
II : Bab ini menyajikan tentang gambaran
umum Kecamatan Cibitung, letak geografis, administrasi, dan informasi umum
lainnya, serta mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan
faktor-faktor lainnya seperti kependudukan, ekonomi, dan pendidikan.
Bab
III : Program Kesehatan Puskesmas Cibitung
Bab
ini berisi uraian tentang program pokok dan program pengembangan yang
dilaksanakan di Kecamatan Cibitung untuk menuju Kecamatan sehat, serta
dijelaskan tujuan, sasaran, dan target yang hendak dicapai.
Bab
IV : Pencapaian program Puskesmas
Bab
ini menguraikan tentang apa saja yang telah dicapai selama kurun satu tahun,
kemudian dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan baik indikator
Kecamatan sehat, indikator kinerja
standar pelayanan minimal, maupun indikator input dan proses.
Bab
V : Penutup
Bab
ini diisi dengan ulasan tentang hal-hal penting yang perlu dianalisis dan
ditindak lanjuti lebih lanjut dari profil kesehatan Kecamatan Cibitung.
Lampiran-lampiran
Lampiran
ini berisi tabel Matrik Program Tahun 2014
BAB II
ANALISA SITUASI
2.1. GAMBARAN UMUM
2.1.1.
GEOGRAFIS
Secara geografis luas wilayah kerja Puskesmas Cibitung
adalah 180,72 KM2, ketinggian 0 – 210 m dpl.
Sebagian besar pemanfaatan lahan adalah lahan kering pertanian dan perkebunan
dan sebagian kecil adalah persawahan. Jarak ke Ibu Kota kabupaten 91 KM dan ke
RSUD 84 KM , jarak tempuh dengan kendaraan roda empat antara 2,5 – 3 jam.
Jangkauan pelayanan Puskesmas ke Desa terjauh dengan waktu tempuh jalan kaki
2,30 jam, sepeda motor 1,5 jam dengan biaya Rp 60.000;, sedangkan jangkauan ke
fasilitas rujukan terdekat dengan waktu tempuh30 menit dengan sepeda motor dengan
biaya Rp. 20.000. Letak
strategis Puskesmas berada di Ibu Kota Kecamatan status terpencil dan
tertinggal dengan status kepemilikan tanah milik PEMKAB Pandeglang tanpa
sertifikat. Luas tanah 2.365 M2, luas bangunan Puskesmas 240 M2,
tahun pembangunan 2006, tahun operasional 17 April 2006, tahun peresmian
1 April 2007 . Adapun batas-batas wilayah pemerintahan kecamatan Cibitung
adalah :
- Utara : Kecamatan Cibaliung
- Selatan : Samudera Indonesia/Pantai Selatan
- Timur : Kecamatan Cikeusik
- Barat : Kecamatan Cimanggu
2.1.2.
GEOLOGI,
TOPOGRAFI, DAN IKLIM
Secara
geologi wilayah kerja Puskesmas Cibitung berada dalam jalur ujung kulon
dan lebak selatan, yang berdasarkan topografi secara umum terdiri dari perbukitan
dan dataran rendah yang terdapat di wilayah pantai selatan samudera Indonesia,
dimana daerah paling rendah jalur pantai Kutakarang, Sindangkerta,dan Citeluk.
Sedangkan daerah tertinggi adalah arah Kiarapayung, Manglid, Cikalong dan
Cikadu. Terdapat lima sungai besar yang mengalir di wilayah Kecamatan Cibitung
sebagai cadangan ketersediaan air yaitu sungai Cikalong, Citeluk dan sungai
Cikasap, Cikiruh, dan sungai Ciherang.
Iklim
wilayah Kecamatan Cibitung adalah iklim tropis dengan curah hujan sekitar
2.000-4.000 mm per tahunnya. Sedangkan suhu minimum sekitar 23 0C dan suhu maksimum 28
0C.
2.1.3.
WILAYAH
ADMINISTRASI PEMERINTAHAN
Sejak terbentuknya Kecamatan
Cibitung pada tahun 2004, wilayah administrasi Pemerintahan Kecamatan
Cibitung terdiri dari wilayah Desa : 10
Desa, 42 dusun, 45 RW, 121 RT.
2.2. GAMBARAN KHUSUS
2.2.1.
DEMOGRAFI
Jumlah keseluruhan penduduk Kecamatan Cibitung
pada bulan Januari 2014
sebanyak 21.457 Jiwa, terdiri dari 10.991 laki-laki dan 10.466 wanita. Jumlah
masyarakat miskin se-Kecamatan 16.019 jiwa, jumlah masyarakat miskin yang
memiliki kartu Jamkesmas sebanyak 15.538
jiwa yang seluruhnya tersebar di 10 Desa yaitu:
Tabel 2.1
Data Penduduk Miskin di Kecamatan Cibitung
Sampai Dengan Tahun 2014
|
NO
|
DESA
|
JAMKESMAS
|
SKTM
|
JUMLAH
|
|
1
|
Citeluk
|
1283
|
-
|
1283
|
|
2
|
Sindangkerta
|
1206
|
473
|
1679
|
|
3
|
Kiarajangkung
|
1136
|
-
|
1136
|
|
4
|
Kutakarang
|
2565
|
-
|
2565
|
|
5
|
Cikiruh
|
1663
|
-
|
1663
|
|
6
|
Malangnengah
|
1110
|
-
|
1110
|
|
7
|
Cikadu
|
2382
|
-
|
2382
|
|
8
|
Manglid
|
1941
|
-
|
1941
|
|
9
|
Kiarapayung
|
1310
|
-
|
1310
|
|
10
|
Cikalong
|
942
|
-
|
942
|
|
|
JUMLAH
|
15.538
|
481
|
16.019
|
Jumlah
penduduk tahun 2014
dengan komposisi penduduk laki-laki 10.991 jiwa dan wanita 10.466 jiwa, ibu
hamil 459 jiwa, bayi 419 jiwa, balita 2.042 jiwa, wus 5.309 jiwa, anak dan remaja 8259 jiwa, lansia 1429 jiwa. Jumlah
penduduk yang tinggal di daerah pantai sebanyak 7783 jiwa dari 4 Desa, dan yang
tinggal di daerah perbukitan sebanyak 13.674
jiwa dari 6 Desa yang ada.
Kepadatan
penduduk Kecamatan Cibitung adalah seperti tabel di bawah ini:
Tabel 2.2
Distribusi Kepadatan Penduduk di
Kecamatan Cibitung Tahun 2014
|
NO
|
DESA
|
LUAS WILAYAH (KM2)
|
JUMLAH RW
|
JUMLAH PENDUDUK
|
KEPADATAN PENDUDUK PER KM 2
|
|
1
|
Citeluk
|
18,11
|
5
|
1.974
|
106
|
|
2
|
Sindangkerta
|
18,02
|
5
|
1.457
|
78
|
|
3
|
Kiarajangkung
|
17,13
|
5
|
1.614
|
92
|
|
4
|
Kutakarang
|
21,18
|
6
|
3.138
|
140
|
|
5
|
Cikiruh
|
19,19
|
4
|
2.295
|
125
|
|
6
|
Malangnengah
|
17,15
|
3
|
1.635
|
92
|
|
7
|
Cikadu
|
18,12
|
6
|
3.322
|
180
|
|
8
|
Manglid
|
16,05
|
3
|
3.062
|
158
|
|
9
|
Kiarapayung
|
18,09
|
4
|
2.162
|
107
|
|
10
|
Cikalong
|
18,15
|
4
|
1.852
|
99
|
|
|
JUMLAH
|
180,72
|
45
|
22.511
|
119
|
Sumber
data : Disduk Capil Kec. Cibitung
Tabel 2.3
Distribusi Penduduk Menurut Kelompok
Umur di Kecamatan Cibitung Tahun 2014
|
KELOMPOK
UMUR
|
LAKI-LAKI
|
WANITA
|
TOTAL
|
|
0 – 14
|
4160
|
3.977
|
8646
|
|
15 – 64
|
6.227
|
5.891
|
9848
|
|
≥ 65
|
604
|
598
|
1202
|
|
TOTAL
|
10.991
|
10.466
|
21.457
|
2.2.2.
KELUARGA
BERENCA (KB)
Pengelolaan kependudukan
diwujudkan pada pengendalian jumlah penduduk yang salah satunya dengan
menurunkan angka kelahiran dengan harapan terwujudnya pertumbuhan penduduk yang
seimbang demi tercapainya peningkatan kesejahteraan dan kualitas keluarga.
Rata-rata jumlah anggota keluarga di Kecamatan Cibitung dengan cara
membandingkan jumlah penduduk dengan jumlah rumah tangga, maka diperoleh data
jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tangga antara 4 – 5 orang. Tingginya
jumlah keluarga di Kecamatan Cibitung salah satunya karena menurunnya jumlah
akseptor KB. Jumlah pasangan usia subur yang ada sebanyak X pasangan, sedangkan
wanita dengan status kawin dan ber KB dapat terlihat pada table berikut :
Tabel 2.4
Persentase Wanita Berstatus Kawin dan
Ber- KB di Kecamatan Cibitung Tahun 2014
|
CARA/ALAT KONTRASEPSI
|
TAHUN
2013
|
FREKUENSI
(%)
|
|
IUD
MOW
MOP
INPLANT
SUNTIK
PIL
KONDOM
|
175
2
17
245
1.750
803
48
|
5,7
0,06
0,5
8,05
57,56
26,42
1,5
|
|
TOTAL
|
3.040
|
100
|
Sumber
data :BP2KB Kecamatan Cibitung
2.2.3.
TINGKAT PENDIDIKAN
Salah satu ukuran yang
fundamental dari status kesehatan masyarakat adalah tingkat pendidikan formal
yang dimiliki oleh masyarakat.Tinggi rendahnya pendidikan masyarakat sangat
berpengaruh terhadap persepsi, pemahaman, dan penalaran pengetahuan masyarakat
terhadap produk kesehatan.
2.2.4.
SUMBER
DAYA KESEHATAN
2.2.4.1. Ketenagaan
Kesehatan
Secara organisatoris
ketersediaan tenaga pendukung pemberi pelayanan kesehatan pada masyarakat
terdiri dari : 1 orang Kepala Puskesmas, 1 orang tenaga ketata usahaan, 1 orang dokter umum,15 orang perawat, 20 orang Bidan, 1 orang tenaga penyuluh Kesehatan
masyarakat, 2 orang pengelola keuangan, dan 3 orang Administrasi. Jumlah bidan
tinggal di desa 17 orang, tenaga pendukung
kemitraan pelayanan kesehatan di Desa: Kader 175 orang dan yang terlatih 105
orang, dukun paraji 52 orang dan yang terlatih 34 orang.
2.2.4.2. Sarana Dan
Prasarana
a.Sarana
Ketersediaan sarana dan prasarana penunjang pelayanan
kesehatan yang dimiliki oleh Puskesmas, yaitu :
Kendaraan roda empat 1 buah kondisi baik, roda dua 3 buah
kondisi layak pakai dan 2 buah tidak layak pakai, poli klinik kit 2 set, Bidan
kit 2 set, partus set 2 buah, IUD kit 1 set, Cool chain 10 buah, sterilisator 1
buah,
b.Prasarana
Puskesmas induk 1 buah, Poskesdes 3 buah, Pos Puskesling 10 Pos, Posyandu
35 Pos Posbindu 10 Pos.
BAB III
PENCAPAIAN PROGRAM
PUSKESMAS
3.1. VISI, MISI, dan STRATEGI
3.1.1. VISI
Visi menggambarkan cara pandang
(walfare) jauh ke depan ke arah mana suatu organisasi harus di bawa agar tetap
eksis, antisipatif, dan inovatif. Visi merupakan cita dan citra yang diinginkan
oleh suatu organisasi di masa yang akan datang. Visi bersama Puskesmas
Kecamatan Cibitung adalah “ Mewujudkan Masyarakat Cibitung yang
berperilku hidup bersih,sehat dan mandiri melalui pelayanan prima”
Penjelasan dari Visi tersebut adalah :
1.
Visi
untuk mewujudkan Masyarakat Kecamatan Cibitung yang hidup dalam lingkungan
sehat, mandiri, berprilaku hidup bersih dan sehat , dan mampu menjangkau
pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata menuju Pandeglang Berkah,
yaitu upaya dimana kondisi masyarakat Kecamatan Cibitung memiliki status
kesehatan yang optimal baik fisik, mental, sosial, dan spiritual yang penuh
dengan keberkahan dalam hidup.
3.1.2. MISI
Adapun untuk mensukseskan misi,
maka seluruh staf menuangkan pernyataan bersama (mission statement) yang
telah disatukan dalam sebuah tekad yaitu setuju untuk mengimplementasikan dan
mengaplikasikan semua program yang telah
digariskan dengan tetap berupaya sesuai kemampuan agar organisasi dapat sukses,
dengan motto “ SIAP BOS “ (Setuju, Implementasi, Aplikasi, Program, Berupaya,
Organisasi, Sukses), dengan misi atau rencana aksi sebagai berikut :
Ø
Berupaya
menggerakkan agar setiap aktivitas pembangunan yang dilaksanakan oleh
masyarakat di Kecamatan Cibitung harus berwawasan Kesehatan.
Ø
Berupaya
menyediakan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang komprehensip dan
terpadu
Ø
Memberdayakan
masyarakat agar mau dan mampu untuk hidup sehat secara mandiri melalui
pembudayaan gerakan hidup bersih dan sehat
Ø
Mengembangkan
Desa Siaga.Aktif.
3.1.3. STRATEGI
Prinsip utama agar sebuah visi
dan misi dapat terwujud dengan baik, maka harus ada sinergisitas dari semua
pihak untuk menjadi pelaku penyelenggaraan pembangunan kesehatan, yaitu :
Ø
Profesionalisme
Ø
Peningkatan
peran serta masyarakat
Ø
Pembangunan
berpola PKMD
Ø
Peningkatan
UKBM
Ø
Masyarakat
sebagai subjek pembangunan kesehatan.
Ø
Kesejahteraan
SDM Kesehatan di Puskesmas
3.2. PROGRAM PRIORITAS
Program priorotas merupakan
penjabaran yang lebih spesifik tentang apa yang akan dilaksanakan berdasarkan
kebijakan yang telah ditetapkan olehpemerintah dan Kesepakatan Global Millenium
Development Goal’s (MDGs). Keberhasilan suatu program akan memberikan
kontribusi besar pada pencapaian sasaran. Mengingat begitu banyaknya program
dan banyaknya keterbatasan kemampuan, maka Puskesmas Cibitung telah membuat
program prioritas/pokok sesuai dengan MDGs dan program pengembangan terbatas
yang telah disusun dan dilaksanakan pada tahun 2014 antara lain :
PROGRAM POKOK :
1. Program
Kesehatan Ibu dan Anak dan KB (KIAR/KB)
2. Program
pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan (P2PL)
3. Program
peningkatan kesehatan dan perbaikan gizi Masyarakat
4. Program
promosi kesehatan
5. Program
pengobatan
6. Program
Kesehatan Lingkungan
PROGRAM PENGEMBANGAN :
1. Puskesmas
Keliling
2. Perawatan
kesehatan masyarakat/public health nursing (PHN)
3. Usaha
kesehatan sekolah (UKS)
4. Olah Raga Kesehatan
5. Posbindu
6. Poskestren
3.3. TUJUAN PELAYANAN
Tujuan pembangunan kesehatan
masyarakat di Kecamatan Cibitung saat ini dan yang akan datang adalah untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, yaitu :
1. Menurunan angka
kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), angka kesakitan (mortalitas),
dan angka kematian (morbiditas).
2. Meningkatkan
mutu kesehatan lingkungan kehidupan masyarakat
3. Menurunkan jumlah sasaran balita di bawah
garis merah
4. Meningkatkan
pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat
5. Mengurangi
angka kesakitan (mortalitas) dan angka kematian (morbiditas)
6. Penerapan
fungsi-fungsi manajemen di Puskesmas pada setiap kegiatan pelayanan.
3.4. SASARAN DAN TARGET
Untuk mewujudkan tujuan di atas
diperlukan operasional melalui uraian sasaran dengan menggunakan pendekatan
SISTEM dengan out put sebagai berikut :
1. Peningkatan
pelayanan KIA : Cakupan K1 (90%), K4 (80%), persalinan oleh Nakes (84%), bumil
resti dirujuk (100%), cakupan kunjungan neonatus (84%), cakupan kunjungan bayi
(76%), cakupan BBLR yang ditangani (100%), cakupan Yankes ibu dan bayi (80%),
cakupan anak sekolah dan remaja (80%).
2. Peningkatan
upaya pencegahan penyakit menular (P2PL) : Intensifikasi surveilans
epidemiologi melalui pelaksanaan system kewaspadaan dini (SKD) 100%, cakupan
UCI 90%, eliminasi kusta proporsi cacat Tk. II (5%), angka kesembuhan PB (95%),
angka kesembuhan MB (90%), penemuan pneumonia (86%), cakupan tatalaksana
pneumonia (50%), angka bebas jentik (95%), tatalaksana diare sesuai standar
(80%), cakupan pelayanan TBC (50%), angka kesembuhan TBC (85%), angka konversi
TBC (80%), angka kesalahan laboratorium (5%)
3. Peningkatan
pelayanan gizi : balita yang naik BB (66%), balita BGM (kurang 18%), bumil dan balita mendapat kapsul vit. A dalam
2 x setahun (76%), balita gizi buruk mendapat perawatan (64%), Desa dengan
garam yodium 76%, MP-ASI pada bayi BGM Gakin 64%, dan ASI ekslusif bayi 0-6
bulan (47%).
4. Peningkatan
pelayanan kesehatan lingkungan : keluarga yang menggunakan jamban saniter
(58%), keluarga memanfaatkan sarana air bersih (55%), air bersih yang memenuhi
syarat bakteriologis (80%), keluarga yang menempati rumah sehat (35%), TTU yang
memenuhi syarat kesehatan (63%).
5. Bertambahnya
jumlah dan mutu sarana pelayanan kesehatan masyarakat melalui tersedianya
Puskesmas sesuai ratio, tersedianya
Poskesdes sesuai ratio, terpenuhinya alat-alat kesehatan di sarana kesehatan
sesuai ratio, terpenuhinya Puskesmas dengan kemampuan UGD sesuai ratio.
6. Meningkatnya
frekuensi penyuluhan kesehatan dari 12 kali per tahun menjadi 24 kali pertahun
7. Meningkatnya
kerjasama lintas sektoral dan kemitraan dengan pihak terkait, adanya
peningkatan strata posyandu, adanya
peningkatan Poskestren
8. Terciptanya
pemahaman yang jelas terhadap visi dan misi Puskesmas, arah kebijakan, tupoksi
kerja masing-masing di Puskesmas, tersusunnya rencana kerja harian, bulanan,
dan tahunan untuk masing-masing pelaksana, adanya pendokumentasian dan
pelaporan program.
9. Tersusunnya
laporan tahunan bagi masing-masing program, tersusunnya profil kesehatan
Puskesmas, terselenggaranya system monitoring dan evaluasi pada setiap unit
program, tersedianya bank data di Puskesmas.
3.5. KEBIJAKAN
Umumnya kebijakan yang
dilaksanakan di Puskesmas dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan strategi di
atas adalah dengan mengoptimalkan upaya-upaya peningkatan program sesuai dengan
kebijakan dari supra struktur seperti Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang dan
Pemerintah Pusat sesuai dengan pedoman pelaksanaan dan petunjuk teknis (juknis)
yang berlaku.
3.6. UPAYA-UPAYA PROGRAM PUSKESMAS
Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Puskesmas
selama tahun 2014 untuk program pokok melalui
kegiatan utama dan kegiatan terintegrasi serta kegiatan manajemen adalah
sebagai berikut :
Tabel 3.1
Upaya-upaya Program Puskesmas di Kecamatan Cibitung Tahun 2014
|
PROGRAM
POKOK
|
KEGIATAN
UTAMA
|
KEGIATAN
ITEGRASI
|
KEGIATAN
MANAJEMEN SETIAP PROGRAM
|
|||||
|
KIA/KB
|
·
ANC/PNC
·
Pertolongan persalinan normal
·
Rujukan
·
Pemeriksaan efek samping
·
Pelayanan kontrasepsi
·
Kemitraan/ P4K
·
AMP sosial Desa
|
·
Imunisasi
·
Pemeriksaan Hb
·
Penimbangan BB anak
·
Pembagian Fe
·
Pembagian vit. A
·
Pendidikan kesehatan dan Konseling
|
·
Perencanaan
·
Manajemen personalia
·
Pelatihan
·
Supervisi/monitoring program
·
Manajemen keuangan
·
Manajemen logistik
·
Koordinasi lintas program dan sektoral
·
Kerjasama dengan kelompok masyarakat
·
Pencatatan dan pelaporan
·
Perencanaan
·
Manajemen personalia
·
Pelatihan
·
Supervisi/monitoring program
·
Manajemen keuangan
·
Manajemen logistik
·
Koordinasi lintas program dan sektoral
·
Kerjasama dengan kelompok masyarakat
·
Pencatatan dan pelaporan
|
|||||
|
P2PL
|
·
Surveilans epidemiologi
·
Imunisasi
·
Pemberantasan vektor
|
·
Pendidikan kesehatan
·
Kebersihan lingkungan
·
Pengobatan
|
||||||
|
GIZI
|
·
Penimbangan anak
·
Pemeriksaan Hb
·
Pemberian PMT, vit. A, tab. Fe
|
·
Penkes dan Konseling
|
||||||
|
PROMKES
|
·
Penyuluhan secara ber kelompok
|
·
Penyuluhan penyakit berbasis lingkungan
·
Penyuluhan kesehatan reproduksi
·
Penyuluhan kadarzi
·
Penyuluhan PHBS
·
Sosialisasi pemanfaatan kartu jamkesmas
·
Penyuluhan khusus penyakit malaria di lokasi KLB
|
||||||
|
PENGOBATAN
|
·
Pemeriksaan pasien
·
Diagnosis
·
Pengobatan
·
Rujukan
|
·
Pendidikan kesehatan dan konseling
|
||||||
|
PHN
|
·
Kunjungan dan perawatan pasien di rumah (home visite)
|
·
Pendidikan kesehatan dan konseling
·
Pengobatan
·
Keg. Kesling
·
Keg. KIA
·
Keg.gizi
|
||||||
|
UKS
|
·
Pelayanan kesehatan di sekolah dengan sasaran murid dan lingkungan
sekolah
|
·
Pemeriksaan kesehatan lingkungan sekolah
·
Pemeriksaan kesehatan dan Pengobatan anak sekolah
·
Saka Bhakti Husada
·
Imunisasi BIAS
·
Pendidikan kesehatan
|
||||||
|
LABORATORIUM SEDERHANA
|
·
Pemeriksaan sediaan darah dan sputum
·
Rujukan
|
·
Kegiatan Program TB paru
·
Kegiatan Program KIA
|
||||||
|
KESLING
|
|
|
|
|||||
|
PUSLING
|
|
|
|
|||||
BAB IV
PENCAPAIAN PROGRAM
PUSKESMAS
5.1.
Status Kesehatan Masyarakat
5.1.1. Angka
Kematian
5.1.1.1. Angka Kematian Ibu (AKI) dalam satu tahun
Angka kematian ibu adalah
jumlah kematian ibu karena kehamilan dan persalinan di Kecamatan Cibitung dalam
satu tahun per 100.000 kelahiran hidup.Hal ini dapat bermanfaat untuk
mengetahui tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi ibu, kesehatan
ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terhadap
ibu.Pada kesempatan ini Puskesmas tidak melakukan penghitungan AKI, karena hal
ini merupakan kompetensi supra struktur, apalagi angka kelahirannya untuk
tingkat Kecamatan tidak mencapai 100.000 orang. Adapun data dan informasi
Puskesmas dapat ditampilkan jumlah dan penyebab kematian ibu pada tabel sebagai
berikut :

Sumber data : Unit KIA,SP3 Puskesmas
Berdasarkan tabel 4.1 di atas sepanjang tahun 2014 bahwa kematian Ibu Maternal terbanyak adalah pada Ibu Bersalin yaitu 2
kasus.
Sumber data : Unit KIA,SP3 Puskesmas
Berdasarkan tabel 4.2 di atas bahwa seluruh kematian Ibu Maternal
disebabkan oleh pendarahan(100%).
5.1.1.2. Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant
Mortality Rate (IMR)
Angka kematian bayi adalah jumlah
kematian bayi di bawah satu tahun setiap 1000 kelahiran hidup.Angka ini
merupakan indikator sensitif terhadap ketersediaan, pemanfaatan pelayanan
kesehatan terutama pelayanan perinatal, dan merupakan indikator terbaik untuk
menilai pembangunan sosial ekonomi masyarakat secara keseluruhan.Namun angka
ini tergantung dari survey yang dilakukan oleh lembaga berwenang dan kompeten.
Adapun data dan informasi Puskesmas dapat ditampilkan jumlah dan penyebab
kematian bayi di puskesmas Cibitung dapat di tampilkan seperti tabel berikut :
Sumber data : Unit KIA
Berdasarkan tabel 4.3 di atas sepanjang tahun 2014 bahwa kematian Bayi terbanyak adalah pada usia 0-7 hari yaitu 6 kasus.

Sumber data : Unit KIA,SP3 Puskesmas
Berdasarkan tabel 4.4 di atas bahwa seluruh kematian bayi disebabkan oleh
Aspiksia (100%).
5.1.1.3. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Menurut Amartya Sen dan Mhbub
Ul Haq et.al.(1990), Indeks Pembangunan Manusia adalah pengukuran perbandingan
dari harapan hidup, melek hurup, pendidikan, dan standar hidup untuk semua
Negara di seluruh Dunia. Salah satu tolok ukur IPM adalah angka harapan hidup
dimana untuk Kabupaten Pandeglang pada tahun 2009 baru mencapai 63 tahun,
sedangkan untuk provinsi Banten yaitu 70 tahun. Dari 8 kabupaten/Kota di Provinsi
Banten IPM Pandeglang berada di urutan ke-7, satu tingkat di atas Kabupaten
Lebak dengan selisih 0,2 point. (Radar Banten edisi 222 tahun XI hal. 17).
5.1.2.
Angka
Kesakitan
5.1.2.1. Kasus 20 Besar Penyakit
Tabel 4.5
Distribusi Kasus 20 Besar
Penyakit di Kecamatan Cibitung Tahun 2013-2014
|
No.
Urt.
|
Kode ICD
|
Tahun 2013
|
Kode ICD
|
Tahun 2014
|
Trend
|
|||
|
Kasus
|
%
|
Kasus
|
%
|
|||||
|
1
|
J06
|
Infeksi sal.nafas akut Ytt
|
6,82
|
J06
|
Infeksi sal.nafas akut Ytt
|
7,39
|
↑
|
|
|
2
|
A09.1
|
Diare dan gastroenteritis
|
6,79
|
A09.1
|
Diare dan gastroenteritis
|
7,28
|
↑
|
|
|
3
|
K29
|
Gastritis dan duodenitis
|
5,60
|
K29
|
Gastritis dan duodenitis
|
7,08
|
↑
|
|
|
4
|
L30
|
Dermatitis lainnya
|
5,55
|
L30
|
Dermatitis lainnya
|
5,99
|
↑
|
|
|
5
|
J11
|
Influensa karena virus Ytt
|
5,45
|
J11
|
Influensa karena virus Ytt
|
5,09
|
↓
|
|
|
6
|
R05
|
Batuk
|
5,35
|
R05
|
Batuk
|
5,00
|
↓
|
|
|
7
|
R50
|
Demam Ytt
|
5,16
|
R50
|
Demam Ytt
|
4,92
|
↓
|
|
|
8
|
L98
|
Gg. lain kulit & jar. Sub kutan Ytt
|
5,00
|
L98
|
Gg. lain kulit & jar. Sub kutan Ytt
|
4,72
|
↓
|
|
|
9
|
M79.2
|
Neuralgia dan Neuritis
|
4,82
|
M79.2
|
Neuralgia dan Neuritis
|
4,60
|
↓
|
|
|
10
|
A09.2
|
Diare disentri basiler
|
4,83
|
A09.2
|
Diare disentri basiler
|
4,54
|
↓
|
|
|
11
|
H10
|
Konjunctivitis
|
4,77
|
H10
|
Konjunctivitis
|
4,49
|
↓
|
|
|
12
|
A01
|
Demam tifoid & paratifoid
|
4,68
|
A01
|
Demam tifoid & paratifoid
|
4,41
|
↓
|
|
|
13
|
R05
|
Sakit kepala
|
4,63
|
R05
|
Sakit kepala
|
4,35
|
↓
|
|
|
14
|
I10
|
Hipertensi essensial (primer)
|
4,48
|
I10
|
Hipertensi essensial (primer)
|
4,24
|
↓
|
|
|
15
|
K02
|
Karies gigi
|
4,46
|
K02
|
Karies gigi
|
4,18
|
↓
|
|
|
16
|
M10
|
Gout
|
4,44
|
M10
|
Gout
|
4,14
|
↓
|
|
|
17
|
M13
|
Artritis lainnya
|
4,38
|
M13
|
Artritis lainnya
|
4,09
|
↓
|
|
|
18
|
L02
|
Abses,furunkel & karbunkel kutan
|
4,36
|
L02
|
Abses,furunkel & karbunkel kutan
|
3,99
|
↓
|
|
|
19
|
G18
|
Pneumonia
|
4,31
|
G18
|
Pneumonia
|
3,98
|
↓
|
|
|
20
|
H65
|
Otitis media non supuratif
|
3,10
|
H65
|
Otitis media non supuratif
|
3,88
|
↓
|
|
|
21
|
XVII
|
Penyakit lain-lain
|
1,00
|
XVII
|
Penyakit lain-lain
|
1,63
|
↓
|
|
Sumber
data : BP Puskesmas, SP2 Puskesmas
5.1.2.2. Pemberantasan Penyakit Endemik Malaria (P2
Malaria)
Pelaksanaan kegiatan
pemberantasan penyakit malaria di Kecamatan Cibitung dilakukan di daerah
endemis malaria seperti di Desa Kutakarang,Kiarajangkung, Sindangkerta, dan
Citeluk dengan melakukan prosedur tetap pemeriksaan darah tepi/DDR ketika
ditemukan tersangka (suspek) malaria dan dilakukan pengobatan serta pengasapan
(Fogging Focus) ketika terjadinya peningkatan kasus yang mengarah kepada
kejadian luar biasa (KLB) yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten
Pandeglang.
5.1.2.3. Pemberantasan Penyakit TB-Paru
Kegiatan pemberantasan penyakit
TB Paru merupakan program Nasional dalam mengeliminasi penderita TB Paru,
melalui beberapa kegiatan atau indikator penting yaitu angka penemuan kasus
baru, angka konversi, angka kesembuhan, dan angka kesalahan pemeriksaan
laboratorium.
Dalam pelakanaan pemberantasan
TB Paru di Kecamatan Cibitung mempunyai spesifikasi tersendiri dibandingkan
dengan program intervensi lainnya, salah satunya adalah pengobatan kasus TB
Paru yang panjang yaitu 6 – 9 bulan. Lamanya pengobatan terhadap penderita
menjadikan faktor penyebab kejenuhan dalam proses pengobatan dan merupakan
prosedur baku yang harus ditempuh agar penderita TB Paru dapat sembuh secara
total dan menetap. Pemberantasan TB Paru yang dijalankan dengan menggunakan
strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS), yaitu pengobatan
penderita dalam jangka pendek melalui pengawasan langsung oleh pengawas minum
obat.
Hasil pencapaian pelaksanaan
kegiatan pemberantasan penyakit TB Paru tahun 2014 masih sangat rendah sehingga perlu ditingkatkan baik kuantitas maupun
kualitasnya, hal ini terlihat dari :
·
Cakupan pelayanan TB Paru 71% dari target 60%
·
Angka kesembuhan TB Paru 81% dari target 85%
·
Angka konversi kasus TB Paru 27% dari target 80%.
Pemberantasan penyakit ini
sangat membutuhkan dukungan dan kerjasama di tingkat pelayanan guna mencapai
cakupan yang ditargetkan antara lain :
§ Masih
sedikitnya sumberdaya manusia kesehatan yang terpapar program TB Paru terutama
dengan pendekatan strategi DOTS
§ Rendahnya
motivasi pengelola TB Paru Puskesmas dan tingginya rasa ketakutan terhadap
resiko penularan
§ Sarana dan
prasarana laboratorium belum memadai
§ Masih
rendahnya keterampilan petugas laboratorium.
5.1.2.4.
Surveilans Epidemiologi
Adanya kegiatan surveilans
epidemiologi di Kecamatan Cibitung yaitu dengan terwujunya sistem kewaspadaan
dini (SKD) dan respon dini terhadap penyakit-penyakit yang berpotensi wabah
atas partisipasi masyarakat.Pelaksanaan SKD di Puskesmas mempunyai arti yang
sangat besar, karena Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dapat
lebih sensitif dalam mendapatkan informasi-informasi penyakit yang mempunyai
kecenderungan terhadap wabah berdasarkan pemantauan mingguan Puskesmas,
sehingga setiap peningkatan kasus dapat dideteksi sedini mungkin.
Pelaksanaan SKD dan respon dini
penyakit berpotensi wabah masih belum optimal, hal ini disebabkan karena
kurangnya motivasi petugas, pemantauan kecenderungan terhadap peningkatan kasus
belum didukung oleh situasi dan kondisi lingkungan dan kelompok yang rentan
sebagai faktor resiko, ketidak lengkapan dan ketepatan pemantauan mingguan
wabah Puskesmas (W2). Seharusnya dalam tahun 2014 jumlah kelengkapan laporan W2 minimal sebanyak 48 kali (100%), data yang ada hanya 48 kali laporan (1,00%).
Dampak musim panca roba,
menyebabkan terjadinya peningkatan kasus Diare yang mengarah pada kejadian luar
biasa (KLB) di Desa Cikiruh pada bulan November 2014 Faktor-faktor pemicu terjadinya peningkatan kasus yang mengarah pada KLB
tersebut antara lain adalah :
·
Kurang optimalnya pemantauan mingguan wabah (W2)
yang berjalan
·
Kurangnya respon petugas surveilans terhadap
peningkatan kasus yang terjadi (epidemi) dalam memastikan dan mencegah luas
sebaran kasus
·
Lemahnya koordinasi lintas program dalam mendapatkan
data dan informasi yang valid dan akurat
·
Kurang responnya pembina Desa terhadap kasus-kasus
potensi wabah.
5.1.2.5. PemberantasanPenyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD)
Penyakit DBD merupakan penyakit
menular berbahaya yang disebabkan oleh virus dengue yang dapat ditularkan oleh
nyamuk aedes aegypty, dan bersumber binatang melalui nyamuk aedes aegypty dan
aedes albopictus sebagai vektornya, dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu
yang singkat dan sering menimbulkan wabah. Salah satu hasil pelaksanaan
kegiatan pencegahan dan pemberantasan DBD melalui penyuluhan-penyuluhan
kelompok yang telah dijalankan, menggambarkan tidak ditemukannya kasus yang
dilaporkan dari tingkat Desa,dan tidak adanya kasus yang ditangani di Puskesmas
dan jaringannya. Namun pengukuran angka bebas jentik (ABJ) secara berkala setiap
tiga bulan sekali di Kecamatan Cibitung belum pernah dilaksanakan, karena
terkendala dana yang tersedia dan hal-hal teknis dilapangan.
5.1.2.6. Eliminasi Kusta
Eliminasi kusta merupakan
komitmen global. Pelaksnaan program pemberantasan kusta di kecamatan Cibitung
dilakukan pada Desa yang terdapat penderita kusta yaitu Desa Manglid 1 kasus
kusta tipe MB dan Desa Malangnengah 1 kasus (1/21.457 penduduk) dan belum dinyatakan
sembuh, ini berarti masih di atas target Nasional yaitu 1/10.000 penduduk. semua
penderita kusta kemungkinan semua
ditemukan oleh petugas, mengingat bahwa kinerja petugas Puskesmas bagus dan pernah mendapatkan pelatihan.
5.1.2.7. Pemberantasan penyakit Diare
Indikator keberhasilan
pelaksanaan program diare yaitu dengan melihat pencapaian target (100%) dari
jumlah penderita diare pada balita.
Kualitas penatalaksanaan
penderita diare di Kecamatan Cibitung yaitu dengan melihat besaran penderita
yang mendapat oralit dibandingkan dengan seluruh penderita yang ditemukan dan
mendapatkan pelayanan yaitu sebayak 384 penderita.Jumlah penderita diare pada
balita pada tahun 2014 sebanyak 146 penderita.Kinerja
program belum berjalan sebagai mana mestinya.
5.1.2.8. Pemberantasan Penyakit ISPA
Fokus kegiatan program P2 ISPA
adalah penemuan dan penatalaksanaan penderita pneumonia pada balita.
Pneumonia adalah penyakit batuk
pilek yang disertai oleh nafas cepat, sesak nafas, dan kadang disertai bunyi
nafas (weezing).Penyakit ini merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi
dan balita.Jumlah penderita ISPA pada balita pada tahun 2014 sebanyak 23 penderita.
Kinerja program belum berjalan
sebagai mana mestinya.
5.1.2.9.
Penyakit PD3I
Penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi (PD3I) di Kecamatan Cibitung dalam tahun 2014 meliputi penyakit Campak dan penyakit Tetanus
Neonatorum.Kedua penyakit ini merupakan penyakit potensial yang sering
menimbulkan wabah.
Selama tahun 2014 terutama penyakit Campak mempunyai resiko cukup
besar sehingga memungkinkan terjadinya transmisi yang sangat cepat. Adapun
jumlah penderita Campak pada tahun 2014 sebanyak 25
penderita dan meninggal 0 orang (AR 0,0% dan CFR 0%). Dari jumlah kelompok yang
beresiko adalah 111 orang, sehingga angka serangan penyakit ini terhadap anak
yang berusia < 15 tahun yang menyerang di 3 Desa.
Adapun jumlah kasus Tetanus
Neonatorum pada tahun 2014 tidak ada,Sedangkan kelompok
resiko kejadian Tetanus Neonatorum adalah 12
bayi, sehingga angka serangan (AR) penyakit ini sebesar 11,1% kelahiran
hidup dan angka kematian (CFR) sebesar 0,0%.
Kendala-kendala dalam
penanganan penyakit PD3I adalah sebagai berikut :
1.
Masih banyaknya kelompok yang rentan terhadap
penyakit PD3I
2.
Masih banyaknya daerah rawan penyakit PD3I
3.
Masih tingginya pengaruh faktor resiko yang
menyebabkan timbulnya kejadian wabah penyakit PD3I.
4.
Kurang optimalnya program intervensi dalam menekan
penyebaran penyakit
PD3I
5.
Belum dimilikinya assessment dalam pencapaian issue
global reduksi Campak dan Eliminasi Tetanus Neonatorum.
5.1.2.10.
Katarak
Jumlah penderita katarak yang
ditangani oleh Puskesmas dan jaringannya pada tahun 2014 dan telah dilakukan operasi sebanyak 2 orang.Pengelola program belum
optimal dalam memanajemen programnya, sehingga belum diperoleh data pasti dan
target penderita katarak di Kecamatan Cibitung.
5.1.2.11.
Kesehatan
Jiwa
Di Puskesmas Cibitung untuk
program kesehatan jiwa belum tergarap, mengingat adanya
keterbatasan-keterbatasan kemampuan sumberdaya.Namun demikian penderita tetap
terlayani dengan menerapkan system rujukan. Berdasarkan pengamatan di lapangan
sering ditemukan masyarakat dengan gangguan kejiwaan, seperti :
§ Gangguan
akibat penggunaan zat psikoaktif
§ Gangguan
psikotik fungsional dan organic
§ Gangguan
anxietas, depresi, somatoform, psikosomatik
§ Kecerdasan
di bawah normal
§ Masalah
insomnia, makan, ketakutan, tingkah laku, kesehatan belajar
§ Epilepsi
Tetapi hal itu sulit dilakukan
intervensi, karena kurangnya pemahaman positif masyarakat terhadap kesehatan
kejiwaan.
5.1.3.
Status
Gizi
Penimbangan balita tahun 2014 tercatat jumlah balita 2.245 orang, dan ditimbang
sebanyak 1.986 balita. Dari jumlah tersebut diketahui balita dengan status gizi
buruk sebanyak 8 (1,32%), balita dengan klasifikasi marasmus 0 orang,
kwashiorkor 0 orang, marasmik kwashiorkor 0 orang, dan tanpa gejala klinis
sebanyak 8 orang. Sedangkan balita dengan status gizi kurang yang cukup banyak
sangat berpotensi menjadi gizi buruk, maka masalah kekurangan energy protein
(KEP) menjadi ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia.
5.2.
Analisa Hasil
Dengan Memakai Pendekatan Sistem
Analisa hasil pelayanan
kesehatan yang dipakai adalah dengan menggunakan pendekatan system berupa
Input, Proces, Out-Put, Effect, Out-Come (Impact).
a.
Input
§ Man (tenaga) : Kepala
Puskesmas 1 orang, Kasubag Tata Usaha 1 orang Dokter 1 orang, Perawat 15 orang, Bidan Desa 20 orang, penyuluh kesmas 1 orang, Administrasi 3 orang Sopir 1 orang
Cleaning service 1 Orang, Kader 105 orang,
Paraji 34 orang.
§ Money (dana) : Program JKN Rp 428.051.000; Program BOK Rp72.000.000; Dana
Oprasional (DOP) Rp9.304.000 dari jumlah setoran Rp1.200.000; dengan target
Rp18.608.000
§ Material
(logistic) : Dukungan sarana kesehatan di puskesmas Cibitung terdiri dari:Obat sesuai LPLPO, vaksin sesuai
sasaran, alat-alat kesehatan cukup bagus, kendaraan R4 1 buah layak pakai, R2 5 buah 2 tidak berfungsi.
§ Metoda :
keterampilan petugas 80% sarjana
Profesional, prosedur kerja tersedia, peraturan dan kebijakan sesuai
ketentuan yang berlaku.
§ Minute
(waktu) : jangka waktu pelaksanaan kegiatan bulanan dan tahunan sesuai dengan
rencana kerja operasional (RKO) yang telah disusun.
§ Market
(sasaran) : sasaran pelayanan program ditujukan kepada individu, keluarga,
kelompok, & masyarakat. Umumnya persepsi masyarakat terhadap kesehatan,
baik masyarakat sektoral maupun masyarakat umum masih kurang sehingga
menghambat cakupan kegiatan program.
b.
Proccess
Perencanaan (P1),
Pengorganisasian (P2), Penggerakkan dan Pelaksanaan program, pengawasan dan
Pengendalian (P3) untuk kelancaran kegiatan (kegiatan pokok dan kegiatan
terintegrasi/pengembangan) dari program Puskesmas, seperti: KIAR/KB, P2PL,
Peningkatan Gizi Masyarakat, Promosi Kesehatan, Pengobatan, PHN, UKS, Kesling.
c.
Out-Put
Batasan cakupan kegiatan
program yang dipakai yaitu jumlah kelompok masyarakat yang diberikan pelayanan
kesehatan (memerator) dibandingkan dengan jumlah kelompok masyarakat yang menjadi
sasaran program (denominator).
Pelayanan yang diberikan sesuai
dengan program pokok Puskesmas berupa pelayanan kesehatan yang komprehensif
yaitu promotive, preventive, curative, dan rehabilitative, dengan deskripsi cakupan hasil selama tahun
2014 sebagai berikut :
1.
Program KIAR :
§
Kunjungan K4 :
308 orang (64,71%)
§
Kunjungan KN2 : 274 orang
(63,28%)
§
Pertolongan persalinan oleh Nakes : 226 orang (49,78%)
2.
Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan(P2PL) :
§ Cakupan
imunisasi rutin menurut jenis antigen :
o
BCG :
98,%
o
DPT 1 :
98,%
o
DPT 2 :
95,%
o
DPT 3 : 93,%
o
Polio 1 : 98,%
o
Polio 2 : 95,%
o
Polio 3 : 93,%
o
Polio 4 : 90,%
o
Campak :
90,%
o
HVB (0-7) :
80,%
o
HVB Combo :
90%
o
TT 1 :
80,%
o
TT 2 :
80,%
§ Imunisasi anak
sekolah :
o
Kelas 1 :
98,2%
o
Kelas 2 :
97,3%
o
Kelas 3 :
96,9%
§ Kesehatan
lingkungan :
o
Cakupan jamban sehat :
36,6%
o
CakupanSarana air bersih : 40,6%
o
Cakupan Rumah sehat :
46,6%
o
Cakupan SPAL :
36,6%
o
Jumlah penyuluhan keamanan pangan : 0%
3.
Peningkatan
Gizi Masyarakat
§ Cakupan N/D :
36,6%
§ Cakupan
vitamin A 6-11 bulan : 82%
§ Cakupan
vitamin A 1-5 tahun : 60,8%
§ Cakupan
tablet Fe bumil :
F1 : 91,3%, F2 : 64,8%
§ Cakupan
kapsul iodium WUS : 80%
§ Cakupan
kapsul iodium bumil : 80%
§ Cakupan
kapsul iodium bufas : 80%
4.
Promosi
Kesehatan
Jumlah penyuluhan kesehatan
pada masyarakat selama tahun 2014 dengan frekuensi sebanyak 12
kali melalui pendanaan program Bantuan Operasional Kesehatan dan Jamkesmas.
5.
Pengobatan
§ Jumlah
kunjungan RJTP : 21.143 (100,0%)
§ Jumlah
kunjungan baru : 436 (2,06%)
§ Jumlah kunjungan
lama :20.707 (97,3%)
§ Cakupan SPM : 14,3%
§ Jumlah
kunjungan Maskin :
15.955 (100,%)
§ Jumlah
kunjungan baru : 436 (2,9%)
§ Jumlah
kunjungan lama :15.519
(97,3%)
§ Cakupan SPM : 11,9%
6.
Perkesmas/ Public Health Nusing (PHN)
§ Jumlah
maternal resiko : 95
kasus
§ Jumlah bayi
resiko : 64 kasus
§ Jumlah
balita resiko :
57 kasus
§ Jumlah
penyakit menular/sporadis: 11 kasus
§ Jumlah
tindak lanjut perawatan : 43 kasus
§ Jumlah DO
program : 0 kasus
§ Jumlah hasil
pembinaan :
o
KM I :
0 kasus
o
KM II :
0 kasus
o
KM III :
0 kasus
o
KM IV :
0 kasus
7.
Upaya Kesehatan Sekolah (UKS)
§ Jumlah
sekolah binaan SD/SLTP/SLTA : 22 buah
§ Jumlah
dokter kecil : 35 orang
§ Jumlah
sekolah sehat : 7 buah
8.
Laboratorium Sederhana
Upaya laboratorium sederhana
yang ada di Puskesmas baru sebatas pemenuhan kegiatan program TB Paru dan
pemeriksaan Hb. Ibu hamil. Program belum berjalan dengan optimal, karena adanya
keterbatasan kemampuan petugas.
d.
Effect
Secara umum perubahan perilaku
dan peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan masih rendah, hal ini
karena masih kurangnya perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat
terhadap kesehatan.
e.
Out-Come (Impact)
Sejauh ini Puskesmas belum
melakukan pengukuran status kesehatan masyarakat dalam hal tingkat dan jenis
kesakitan (morbiditas), tingkat kematian spesifik berdasarkan sebab penyakit
tertentu (mortalitas), tingkat kematian ibu (AKI), tingkat kematian bayi (AKB),
tingkat kesuburan dan kelahiran (fertilitas), dan tingkat kecacatan (Handicap)
karena memang bukan merupakan kewenangan
tingkat Puskesmas.
BAB V
PENUTUP
Dalam upaya
meningkatkan kinerja Puskesmas untuk pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan
kesehatan di Kecamatan Cibitung agar lebih efektif, efisien, dan produktif,
maka penyusunan Profil tahunan ini merupakan gambaran dan bahan pertimbangan
bagi seluruh pelaksana program di Puskesmas dan jaringannya dan bagi lintas
sektor.
Keberhasilan
pencapaian pembangunan kesehatan di Kecamatan Cibitung sangat tergantung pada
sikap mental berupa niat, tekad kuat, semangat, ketaatan, dan disiplin, serta
komitmen bersama dari seluruh stakeholder terkait dan seluruh lapisan
masyarakat.
Oleh
karenanya seluruh pengelola program dan penanggung jawab kegiatan di Kecamatan
Cibitung agar bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kegiatan program sesuai
rencana kegiatan operasional (RKO), agar mampu memberikan kontribusi
pembangunan yang berdaya guna dan berhasil guna, sehingga pembangunan kesehatan
dapat dinikmati secara adil dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat di
Kecamatan Cibitung dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
Setiap
program wajib menerapkan prinsip-prinsip efektif, efisien, transparansi,
akuntabel, dan partisipatif dalam melaksanakan program dan kegiatannya sesuai
dengan pedoman pelaksanaan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan, sasaran
pada program serta kegiatan pembangunan kesehatan di Kecamatan Cibitung secara
berkelanjutan.
Pelaksanaan
seluruh kegiatan, baik dalam kerangka anggaran maupun kerangka kebijakan,
memerlukan pentingnya keterpaduan dan sinkronisasi antar program dan kegiatan,
baik antar kegiatan dalam satu unit program maupun dengan unit lainnya.
Dengan
tersusunnya Profil Tahun 2014 Pembangunan Kesehatan di
Kecamatan Cibitung ini, diharapkan dapat dijadikan dasar pedoman dan dasar
evaluasi serta laporan pelaksanaan atas kinerja tahunan Puskesmas Kecamatan
Cibitung, serta sebagai dasar untuk mencari upaya-upaya terobosan dalam upaya
pencapaian Visi Puskesmas Cibitung dan mendukung Visi Dinas Kabupaten
Pandeglang mendatang serta akselerasi tujuan MDGs.
Tentunya
penyusunan Profil tahun 2014 masih banyak kekurangan dan
kelemahan baik dalam tata bahasa penulisan dan penampilan maupun dalam penentuan strategi pelaksanaan kebijakannya.
Atas dasar itulah, berbagai masukan yang bersifat korektif sangat dibutuhkan
oleh sekretariat Puskesmas Cibitung untuk lebih menyempurnakan dokumen profil
Puskesmas dari tahun ke tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar